Terkadang kita sebagai
tholibul ilmi sering kali lupa akan beberapa hal yg pokok dalam tholabul ilmi.
Kita hanya mengejar banyaknya jumlah ilmu yang dipelajari dan mengejar
label-label atau kedudukan yang akan kita dapatkan di masyarakat tanpa
menghiraukan sebuah pokok atau pondasi utama dalam bertholabul ilmi. Di sinilah
letak kelemahan kita sebagai tholibul ilmi, banyak mencari ilmu tapi lupa akan
memperkokoh pondasi tholabul ilmi.
Ia adalah niat, inilah pondasi yang sering lupa untuk diperkokoh
oleh tholibul ilmi. Padahal niat ini adalah penyangga utama dalam mencari ilmu.
Niat ini bisa diumpamakan seperti cakar ayam dalam pondasi sebuah bangunan,
semegah apapun bangunan tersebut jika pondasi dibangun tanpa teori cakar ayam maka tak akan bisa berdiri kokoh seperti yang diinginkan, begitu juga dengan mencari ilmu, sebanyak apapun ilmu yang kita cari tapi dibangun tanpa niat yang benar maka tak akan tertancap kuat di dalam hati seperti yang dinginkan.
semegah apapun bangunan tersebut jika pondasi dibangun tanpa teori cakar ayam maka tak akan bisa berdiri kokoh seperti yang diinginkan, begitu juga dengan mencari ilmu, sebanyak apapun ilmu yang kita cari tapi dibangun tanpa niat yang benar maka tak akan tertancap kuat di dalam hati seperti yang dinginkan.
Bisa dikatakan niat
ini adalah sebuah hal kecil yang sepele. seperti halnya cakar ayam dalam
pondasi, walaupun kecil tapi sangat berprngaruh. Rosululloh pernah bersabda, “
sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya dan bagi setiap orang itu
sesuai dengan apa yang dia niatkan”.
Maka niat kita haruslah ikhlas untuk Allah semata bukan untuk yang lain, supaya
niat kita menjadi niat yang benar dan kokoh. Oleh karena itu, jika niat kita
tidak terbangun dengan benar maka rusaklah bangunan keilmuan kita, jika niat
kita salah maka salah pula konstruksi keilmuan kita.
Niat itu sangat penting dalam dalam sebuah amalan, apalagi
amalan kita saat ini adalah sedang menuntut ilmu, amalan yang sangat besar.
Jika kita salah dalam berniat maka amalan yang besar ini bisa jadi amalan kecil
yang tak bernilai. Abdullah ibnu mubarok pernah berkata, ”Bisa jadi suatu
amalan kecil menjadi besar karena niat, dan amalan besar menjadi kecil karena
niat pula”. Alangkah indahnya jika kita dalam menuntut ilmu sambil dibarengi
niat yang benar, maka amalan besar dan
niat benar akan bersatu menjadi amalan yang sangat besar. Jangan sampai amalan
besar ini kita rusak dengan niat yang salah, seperti riya’, takabbur, dan
lain-lain. Karena akan merusak derajat ketinggian seorang ‘alim.
Padahal banyak sekali contoh dari ulama-ulama besar jaman
dahulu maupun sekarang yang berperilaku tawadhu’ dan berniat ikhlas dalam
mencari ilmu. Mereka sangat berhati hati dalam masalah niat ini. Sofyan ats
tsaury pernah berkata, ”tidak ada suatu pekerjaan paling berat yang pernah saya
lakukan melainkan niat”. Perkataan beliau ini menunjukan bahwa perkara niat ini
sangatlah berat di banding yang lain karena butuh kehati-hatian dan pembaharuan
agar tidak salah dalam berniat.
Oleh karena itu ikhwah, mari kita senantiasa perbarui niat
kita di kala mengawali hari, karena dengan niat yang benar ini maka akan
menuntun kita pada arah tujuan yang benar dalam melakukan amalan-amalan yang
akan di kerjakan pada hari tersebut.
No comments:
Post a Comment