Greet


Sunday, February 10, 2013

Nikmat Besar Jangan Disia-siakan

Terkadang kita kurang sadar terhadap apa yang telah Allah berikan kepada kita. Banyak sekali nikmat yang telah Allah berikan kita lalaikan dan tidak kita manfaatkan. Salah satu dari sekian banyak nikmat tersebut adalah nikmat Tholabul Ilmi. Banyak dari kita yang melalaikan nikmat besar ini. Kita tidak memanfaatkan nikmat tersebut dengan sebaik-baiknya. Jika kita mau merenung sejenak, tidak semua orang Allah beri kesempatan untuk mendapatkan nikmat ini dengan layak seperti kita saat ini. Dan jika kita mau berpikir lebih jauh lagi kita termasuk dari orang-orang pilihan. Allah telah memilih kita dari sekian ratus juta orang penduduk Indonesia untuk bisa mengenyam pendidikan yang layak, di institusi-institusi bagus dan bahkan beberapa bisa ke luar negeri. Maka hal ini adalah suatu nikmat besar yang tiada kira karena tidak semua orang bisa merasakan.


Kita saat ini telah mendapatkan nikmat tersebut, tapi kenyataannya sangat sedikit dari kita yang telah memanfaatkan nikmat tersebut dengan sebaik-baiknya. Kita hanya berjalan seiring berjalannya waktu tanpa adanya sesuatu yang lebih dari apa yang kita perbuat. Kita hanya sekedar kuliah mengikuti alur, masuk-masuk, libur-libur tanpa ada kesungguhan di dalamnya. Hal ini seakan-akan kita tidak menyadari betapa besar nikmat kesempatan ini. Seharusnya kita sadar dengan nikmat besar ini, tapi sadar tidaklah cukup sebagai salah satu bentuk syukur kita, melainkan kita juga harus dibarengi sikap sungguh-sungguh dan tekad kuat dalam menjalankan dan memanfaatkan kesempatan tholabul ilmi tersebut.

Ilmu tidak dapat di dapatkan hanya dengan bersantai-santai tapi perlu tekad kuat dan kesungguhan. Jika kita dalam memanfaatkan nikmat tholabul ilmi ini hanya dengan bersantai-santai, maka ini sama saja membuang-buang kesempatan besar dan nikmat besar kita. Banyak sekali contoh-contoh disekitar kita yang bisa di jadikan teladan bagi kita dalam memanfaatkan nikmat ini. Sebut saja Syed Abul A’la Al-Maududi, beliau adalah ulama kharismatik asal Pakistan, ulama mujaddid abad ini, nama beliau sangat terkenal di seantero penjuru dunia. Beliau juga Salah satu Pakar ilmu ekonomi islam abad ini. Beliau termasuk ulama yang tidak berumur panjang, beliau wafat dalam umur yang belum terhitung tua. Umur beliau tidak sampai angka 50, tapi nama beliau masih terus bergema sampai detik ini. Hal ini dikarenakan beliau selalu bersungguh-sungguh dan memiliki tekad kuat dalam memanfaatkan nikmat tholabul ilmi beliau. Saat muda beliau senantiasa menghadiri majelis-majelis ilmu para kibarul ulama, dan beliau selalu menanamkan pada dirinya untuk bisa menjadi lebih baik dari pada masyaikh-masyaikh di tempat majelis-majelis tersebut. Walhasil apa yang beliau azamkan dan dibarengi himmah yang kuat dalam bertholabul ilmi, beliau banyak menelurkan karya-karya luar biasa dan tak jarang pula masyaikh-masyaikh zaman ini banyak mengutip perkataan beliau seperti Syaikh Al-Qardhawi, dibeberapa buku beliau banyak mengutip perkataan Syed Al-Maududi padahal Al-Maududi hanya ulama muda dan tidak berumur panjang.

Kemudian adapula beberapa ulama yang mungkin secara finansial tidak mencukupi, dikarenakan selalu memiliki tekad kuat himmah dalam memanfaatkan nikmat tholabul ilmi ini, mereka menjadi sosok masyaikh dan ulama yang luar biasa. Salah satunya adalah Syekh Ahmad Dedaat, ulama pakar kristologi asal India. Saat muda beliau termasuk orang fakir karena ayah dan ibunya harus bekerja sebagai buruh di Afrika Selatan dengan penghasilan yang sangat minim. Akhirnya beliau hanya bisa menamatkan pendidikan formal enam tahun saja. Kemudian saat beliau remaja beliau berjualan di pasar dekat akademi pendeta. Pada waktu itu beliau adalah termasuk mangsa dakwah para pendeta-pendeta muda akademi tersebut. Para pendeta tersebut selalu menjelak-jelekan islam dan hal ini membuat beliau marah tapi tak bisa berargumen karena tidak memiliki ilmunya sama sekali. Akhirnya dari sini beliau terlecut semangat untuk tholabul ilmi kembali karena beliau sadar tholabul ilmi adalah nikmat besar yang Allah berikan. Dengan tekat kuat walaupun tidak memiliki kemampuan finansial beliau mampu menjadi ulama yang hebat di bidang kristologi, sampai beliau tua dan sakit-sakitan pun beliau tetap tak putus semangat dalam tholabul ilmi dan berdakwah.

Maka dari itu ikhwah kita harus benar-benar sadar dan memenfaatkan nikmat tholabul ilmi ini, terlebih lagi bagi kita yang diberi kesempatan untuk bisa mengenyam pendidikan sampai jenjang yang tinggi. Sangatlah tidak pantas kita menyia-nyiakan kesempatan ini. Tapi sadar tidaklah cukup, tapi kita juga harus barengi dengan tekad dan kesungguhan yang kuat dalam menjalaninya supaya kita bisa benar-benar maksimal dalam mendapatkan ilmu yang kita pelajari dan supaya kita tidak terhitung sebagai seorang yang kufur akan nikmat Allah. Wallahua’lam.

No comments:

Post a Comment