Terkadang kita kurang sadar terhadap apa yang telah Allah
berikan kepada kita. Banyak sekali nikmat yang telah Allah berikan kita
lalaikan dan tidak kita manfaatkan. Salah satu dari sekian banyak nikmat
tersebut adalah nikmat Tholabul Ilmi. Banyak dari kita yang melalaikan
nikmat besar ini. Kita tidak memanfaatkan nikmat tersebut dengan
sebaik-baiknya. Jika kita mau merenung sejenak, tidak semua orang Allah beri
kesempatan untuk mendapatkan nikmat ini dengan layak seperti kita saat ini. Dan
jika kita mau berpikir lebih jauh lagi kita termasuk dari orang-orang pilihan.
Allah telah memilih kita dari sekian ratus juta orang penduduk Indonesia untuk
bisa mengenyam pendidikan yang layak, di institusi-institusi bagus dan bahkan
beberapa bisa ke luar negeri. Maka hal ini adalah suatu nikmat besar yang tiada
kira karena tidak semua orang bisa merasakan.
Kita saat
ini telah mendapatkan nikmat tersebut, tapi kenyataannya sangat sedikit dari
kita yang telah memanfaatkan nikmat tersebut dengan sebaik-baiknya. Kita hanya
berjalan seiring berjalannya waktu tanpa adanya sesuatu yang lebih dari apa
yang kita perbuat. Kita hanya sekedar kuliah mengikuti alur, masuk-masuk,
libur-libur tanpa ada kesungguhan di dalamnya. Hal ini seakan-akan kita tidak
menyadari betapa besar nikmat kesempatan ini. Seharusnya kita sadar dengan
nikmat besar ini, tapi sadar tidaklah cukup sebagai salah satu bentuk syukur
kita, melainkan kita juga harus dibarengi sikap sungguh-sungguh dan tekad kuat
dalam menjalankan dan memanfaatkan kesempatan tholabul ilmi tersebut.
Ilmu tidak
dapat di dapatkan hanya dengan bersantai-santai tapi perlu tekad kuat dan
kesungguhan. Jika kita dalam memanfaatkan nikmat tholabul ilmi ini hanya dengan
bersantai-santai, maka ini sama saja membuang-buang kesempatan besar dan nikmat
besar kita. Banyak sekali contoh-contoh disekitar kita yang bisa di jadikan
teladan bagi kita dalam memanfaatkan nikmat ini. Sebut saja Syed Abul A’la
Al-Maududi, beliau adalah ulama kharismatik asal Pakistan, ulama mujaddid abad
ini, nama beliau sangat terkenal di seantero penjuru dunia. Beliau juga Salah
satu Pakar ilmu ekonomi islam abad ini. Beliau termasuk ulama yang tidak
berumur panjang, beliau wafat dalam umur yang belum terhitung tua. Umur beliau
tidak sampai angka 50, tapi nama beliau masih terus bergema sampai detik ini.
Hal ini dikarenakan beliau selalu bersungguh-sungguh dan memiliki tekad kuat
dalam memanfaatkan nikmat tholabul ilmi beliau. Saat muda beliau senantiasa
menghadiri majelis-majelis ilmu para kibarul ulama, dan beliau selalu
menanamkan pada dirinya untuk bisa menjadi lebih baik dari pada
masyaikh-masyaikh di tempat majelis-majelis tersebut. Walhasil apa yang beliau
azamkan dan dibarengi himmah yang kuat dalam bertholabul ilmi, beliau banyak
menelurkan karya-karya luar biasa dan tak jarang pula masyaikh-masyaikh zaman
ini banyak mengutip perkataan beliau seperti Syaikh Al-Qardhawi, dibeberapa
buku beliau banyak mengutip perkataan Syed Al-Maududi padahal Al-Maududi hanya
ulama muda dan tidak berumur panjang.
Kemudian
adapula beberapa ulama yang mungkin secara finansial tidak mencukupi,
dikarenakan selalu memiliki tekad kuat himmah dalam memanfaatkan nikmat
tholabul ilmi ini, mereka menjadi sosok masyaikh dan ulama yang luar biasa.
Salah satunya adalah Syekh Ahmad Dedaat, ulama pakar kristologi asal India.
Saat muda beliau termasuk orang fakir karena ayah dan ibunya harus bekerja
sebagai buruh di Afrika Selatan dengan penghasilan yang sangat minim. Akhirnya
beliau hanya bisa menamatkan pendidikan formal enam tahun saja. Kemudian saat
beliau remaja beliau berjualan di pasar dekat akademi pendeta. Pada waktu itu
beliau adalah termasuk mangsa dakwah para pendeta-pendeta muda akademi
tersebut. Para pendeta tersebut selalu menjelak-jelekan islam dan hal ini membuat
beliau marah tapi tak bisa berargumen karena tidak memiliki ilmunya sama
sekali. Akhirnya dari sini beliau terlecut semangat untuk tholabul ilmi kembali
karena beliau sadar tholabul ilmi adalah nikmat besar yang Allah berikan.
Dengan tekat kuat walaupun tidak memiliki kemampuan finansial beliau mampu
menjadi ulama yang hebat di bidang kristologi, sampai beliau tua dan
sakit-sakitan pun beliau tetap tak putus semangat dalam tholabul ilmi dan
berdakwah.
Maka dari
itu ikhwah kita harus benar-benar sadar dan memenfaatkan nikmat tholabul ilmi
ini, terlebih lagi bagi kita yang diberi kesempatan untuk bisa mengenyam
pendidikan sampai jenjang yang tinggi. Sangatlah tidak pantas kita
menyia-nyiakan kesempatan ini. Tapi sadar tidaklah cukup, tapi kita juga harus
barengi dengan tekad dan kesungguhan yang kuat dalam menjalaninya supaya kita
bisa benar-benar maksimal dalam mendapatkan ilmu yang kita pelajari dan supaya
kita tidak terhitung sebagai seorang yang kufur akan nikmat Allah. Wallahua’lam.

No comments:
Post a Comment