Dewasa
ini kita banyak menjumpai di media-media massa tentang pemberitaan
musibah-musibah besar yang menimpa kehidupan manusia. Mulai dari banjir
bandang, gempa bumi, angin topan hingga badai el nino dan la nina. Musibah-musibah
tersebut benar-benar memporak-porandakan aktivitas manusia, banyak memakan
korban tewas hingga luka-luka berat. Bahkan dibeberapa tempat musibah tersebut
mampu meluluh lantakan seluru sendi-sendi kehidupan manusia setempat. Tak ayal
bermula dari musibah-musibah tersebut pemerintah-pemerintah dunia mulai
mempersiapkan diri sebagai bentuk penanggulangan jikalau musibah besar akan datang
kembali. Sehingga masyarakatpun mampu meminimalisir efek dan bahaya dari
musibah tersebut.
Tapi
sebenarnya ada musibah yang lebih besar dan dahsyat ketimbang musibah-musibah
tadi, tanda-tanda musibah ini sulit terditeksi dan bahaya yang ditimbulkan
lebih dahsyat dari pada musibah-musibah bencana alam. Musibah dahsyat tersebut
adalah penyakit hati. Penyakit hati ini sungguh luar biasa berbahaya ketimbang
musibah bencana alam sekalipun. Tanda-tanda penyakit hati inipun oleh manusia
sulit terditeksi bahkan banyak manusia yang tidak sadar ternyata mereka telah
terjangkit musibah dahsyat ini. Para pengidap musibah ini malah masih
santai-santai dan biasa saja terhadap penyakit ini yang sebenarnya sudah
mengkronis di dalam dirinya. Dan sayangnya penyakit ini tidak pilih-pilih dalam
penyebarannya. Tak tanggung-tanggung para ulama, pejabat Negara, pedagang, para
penuntut ilmu dan lain-lain, mereka semua sangat berpeluang terjangkit penyakit
ini.
Penyakit
hati yang sering kali menjangkiti manusia tanpa sadar adalah rasa sombong dan
dengki. Tanpa sadar penyakit sombong ini banyak menjangkiti para da’i dan para
penuntut ilmu. Para da’i mereka banyak berdakwah menyampaikan ilmu-ilmu yang
mereka miliki tapi tanpa sadar di hati mereka tumbuh rasa sombong dan bangga
akan kemampuan ilmunya karena bisa melebihi da’i-da’i yang lain. Akhirnya da’i
yang terjangkit sombong ini merasa tidak butuh dengan dai-dai yang lain dan
ujung-ujungnya terjadi kerenggangan hubungan antar para dai yang notabene harus
saling membantu dalam membenahi umat dan akhirnya umatpun jadi korban. Dan hal
ini juga serupa banyak menjangkiti para penuntut ilmu. Mereka yang memiliki
kemampuan lebih dalam menyerap ilmu tiba-tiba tanpa sadar tumbuh pula penyakit
sombong dan bangga diri karena melebihi yang lain, sehingga merasa tidak butuh
yang lain dan hanya akan membantu jika diminta, bukan malah mengulurkan bantuan
terlebih dahulu sebelum diminta.
Padahal
jika mereka para dai dan para penuntut ilmu sadar, substansi ilmu itu bukanlah
banyaknya buku-buku yang mereka baca dan hafal, bukan pula dari nilai-nilai
tinggi yang mereka dapatkan, melainkan substansi ilmu itu adalah Khasyatullah
takut kepada Allah.
ليس العلم بكثرة القراءة الكتب و حفظ الكتب و لكن العلم الخشية
“ilmu bukanlah dari banyaknya kitab-kitab yang
dibaca ataupun dihafal, melainkan substansi ilmu itu adalah khosyah (rasa takut
kepada Allah)
Jadi
jika mereka sadar seharusnya tidak ada yang perlu disombongkan atau dibanggakan
dari apa yang mereka miliki, melainkan mereka harus semakin tawadu’ dan takut
kepada Allah. Karena para ulama terdahulu mereka semakin banyak ilmu semakin
besar pula rasa takut mereka kepada Allah. Mereka takut terjangkit penyakit
hati dan kemunafikan. Karena orang-orang terdahulu benar-benar ingin menjadi
mukmin yang hakiki yang senantiasa beramal dan takut kepada Allah, bukan
seperti orang munafik yang tidak beramal dan tidak takut kepada Allah.
Selain
rasa sombong bangga diri, penyakit yang sering menjangkiti manusia tanpa sadar
adalah rasa iri dengki, bahkan merasa biasa saja dengan penyakit ini. Lagi-lagi
penyakit ini rawan menjangkiti para dai dan para penuntut ilmu. Banyak para
da’i yang tidak sadar terjangkit penyakit ini. Timbul rasa iri terhadap da’i
lain yang lebih banyak jama’ah kajiannya dan lebih banyak rezekinya. Akhirnya
timbul iri dan ghibah, ‘wah dai itu punya fasilitas ini itu jadi bisa belajar
mudah, ilmunya tinggi, jamaahnya banyak terus berujung rejeki ngalir’, dan
akhirnyapun berujung kebencian dan permusuhan di antara para dai. Begitu pula
penyakit ini juga banyak menjangkiti para penuntut ilmu tanpa mereka sadari.
Saling iri satu sama lain di antara para penuntut ilmu, saling menggibah, ‘wah
dia punya ini itu akhirnya dia bisa lebih dari pada yang lain’. Akhirnya
berujung kebencian dan permusuhan di antara para penuntut ilmu, bukan malah
saling membantu satu sama lain.
Maka
dari itu Rasulullah shalallahu alaihi wassalam mengajarkan doa kepada
kaum muslimin supaya mereka terhindar dari penyakit-penyakit hati tadi yang
sewaktu-waktu bisa menjangkiti kita tanpa disadari.
يا مقلب القلوب ثبت قلبي على الدينك
“Wahai Allah pembolak balik hati, tancapkanlah
hatiku selalu di dalam agama-Mu”
اللهم اني اعوذبك من منكرة اخلاق و الاعمال و الاهواء
”Ya Allah jauhkanlah hamba dari kemungkaran
akhlak, kemungkaran amalan (dzohir dan batin) dan kemungkaran hawa nafsu
Oleh
karena itu mari kita perbanyak doa yang telah di ajarkan oleh Rasulullah
tersebut supaya kita terhindar dari musibah dahsyat penyakit hati yang
sewaktu-waktu bisa menghmpiri kita tanpa kita sadari. Karena bisa jadi dari
penyakit hati inilah yang menyebabkan Allah mengirimkan peringatan kepada
manusia berupa musibah-musibah bencana alam kepada penduduk bumi ini.
ولوان اهل القرى امنوا واتقو لفتحنا عليهم بركت من السماء والارض ولكن
كذ بوا فاخذنهم بما كنوا يكسبون"“
”Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri
beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari
langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami azab
mereka disebabkan perbuatannya”.(Al-A’raf:96)
Wallahua’lam
No comments:
Post a Comment