Greet


Sunday, March 3, 2013

MUSIBAH TERDAHSYAT UMAT MANUSIA

Dewasa ini kita banyak menjumpai di media-media massa tentang pemberitaan musibah-musibah besar yang menimpa kehidupan manusia. Mulai dari banjir bandang, gempa bumi, angin topan hingga badai el nino dan la nina. Musibah-musibah tersebut benar-benar memporak-porandakan aktivitas manusia, banyak memakan korban tewas hingga luka-luka berat. Bahkan dibeberapa tempat musibah tersebut mampu meluluh lantakan seluru sendi-sendi kehidupan manusia setempat. Tak ayal bermula dari musibah-musibah tersebut pemerintah-pemerintah dunia mulai mempersiapkan diri sebagai bentuk penanggulangan jikalau musibah besar akan datang kembali. Sehingga masyarakatpun mampu meminimalisir efek dan bahaya dari musibah tersebut.


Tapi sebenarnya ada musibah yang lebih besar dan dahsyat ketimbang musibah-musibah tadi, tanda-tanda musibah ini sulit terditeksi dan bahaya yang ditimbulkan lebih dahsyat dari pada musibah-musibah bencana alam. Musibah dahsyat tersebut adalah penyakit hati. Penyakit hati ini sungguh luar biasa berbahaya ketimbang musibah bencana alam sekalipun. Tanda-tanda penyakit hati inipun oleh manusia sulit terditeksi bahkan banyak manusia yang tidak sadar ternyata mereka telah terjangkit musibah dahsyat ini. Para pengidap musibah ini malah masih santai-santai dan biasa saja terhadap penyakit ini yang sebenarnya sudah mengkronis di dalam dirinya. Dan sayangnya penyakit ini tidak pilih-pilih dalam penyebarannya. Tak tanggung-tanggung para ulama, pejabat Negara, pedagang, para penuntut ilmu dan lain-lain, mereka semua sangat berpeluang terjangkit penyakit ini. 

Penyakit hati yang sering kali menjangkiti manusia tanpa sadar adalah rasa sombong dan dengki. Tanpa sadar penyakit sombong ini banyak menjangkiti para da’i dan para penuntut ilmu. Para da’i mereka banyak berdakwah menyampaikan ilmu-ilmu yang mereka miliki tapi tanpa sadar di hati mereka tumbuh rasa sombong dan bangga akan kemampuan ilmunya karena bisa melebihi da’i-da’i yang lain. Akhirnya da’i yang terjangkit sombong ini merasa tidak butuh dengan dai-dai yang lain dan ujung-ujungnya terjadi kerenggangan hubungan antar para dai yang notabene harus saling membantu dalam membenahi umat dan akhirnya umatpun jadi korban. Dan hal ini juga serupa banyak menjangkiti para penuntut ilmu. Mereka yang memiliki kemampuan lebih dalam menyerap ilmu tiba-tiba tanpa sadar tumbuh pula penyakit sombong dan bangga diri karena melebihi yang lain, sehingga merasa tidak butuh yang lain dan hanya akan membantu jika diminta, bukan malah mengulurkan bantuan terlebih dahulu sebelum diminta.

Padahal jika mereka para dai dan para penuntut ilmu sadar, substansi ilmu itu bukanlah banyaknya buku-buku yang mereka baca dan hafal, bukan pula dari nilai-nilai tinggi yang mereka dapatkan, melainkan substansi ilmu itu adalah Khasyatullah takut kepada Allah.

ليس العلم بكثرة القراءة الكتب و حفظ الكتب و لكن العلم الخشية
“ilmu bukanlah dari banyaknya kitab-kitab yang dibaca ataupun dihafal, melainkan substansi ilmu itu adalah khosyah (rasa takut kepada Allah)

Jadi jika mereka sadar seharusnya tidak ada yang perlu disombongkan atau dibanggakan dari apa yang mereka miliki, melainkan mereka harus semakin tawadu’ dan takut kepada Allah. Karena para ulama terdahulu mereka semakin banyak ilmu semakin besar pula rasa takut mereka kepada Allah. Mereka takut terjangkit penyakit hati dan kemunafikan. Karena orang-orang terdahulu benar-benar ingin menjadi mukmin yang hakiki yang senantiasa beramal dan takut kepada Allah, bukan seperti orang munafik yang tidak beramal dan tidak takut kepada Allah.

Selain rasa sombong bangga diri, penyakit yang sering menjangkiti manusia tanpa sadar adalah rasa iri dengki, bahkan merasa biasa saja dengan penyakit ini. Lagi-lagi penyakit ini rawan menjangkiti para dai dan para penuntut ilmu. Banyak para da’i yang tidak sadar terjangkit penyakit ini. Timbul rasa iri terhadap da’i lain yang lebih banyak jama’ah kajiannya dan lebih banyak rezekinya. Akhirnya timbul iri dan ghibah, ‘wah dai itu punya fasilitas ini itu jadi bisa belajar mudah, ilmunya tinggi, jamaahnya banyak terus berujung rejeki ngalir’, dan akhirnyapun berujung kebencian dan permusuhan di antara para dai. Begitu pula penyakit ini juga banyak menjangkiti para penuntut ilmu tanpa mereka sadari. Saling iri satu sama lain di antara para penuntut ilmu, saling menggibah, ‘wah dia punya ini itu akhirnya dia bisa lebih dari pada yang lain’. Akhirnya berujung kebencian dan permusuhan di antara para penuntut ilmu, bukan malah saling membantu satu sama lain.

Maka dari itu Rasulullah shalallahu alaihi wassalam mengajarkan doa kepada kaum muslimin supaya mereka terhindar dari penyakit-penyakit hati tadi yang sewaktu-waktu bisa menjangkiti kita tanpa disadari. 

يا مقلب القلوب ثبت قلبي على الدينك
“Wahai Allah pembolak balik hati, tancapkanlah hatiku selalu di dalam agama-Mu”

اللهم اني اعوذبك من منكرة اخلاق و الاعمال و الاهواء
”Ya Allah jauhkanlah hamba dari kemungkaran akhlak, kemungkaran amalan (dzohir dan batin) dan kemungkaran hawa nafsu

Oleh karena itu mari kita perbanyak doa yang telah di ajarkan oleh Rasulullah tersebut supaya kita terhindar dari musibah dahsyat penyakit hati yang sewaktu-waktu bisa menghmpiri kita tanpa kita sadari. Karena bisa jadi dari penyakit hati inilah yang menyebabkan Allah mengirimkan peringatan kepada manusia berupa musibah-musibah bencana alam kepada penduduk bumi ini.

ولوان اهل القرى امنوا واتقو لفتحنا عليهم بركت من السماء والارض ولكن كذ بوا فاخذنهم بما كنوا يكسبون"
”Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami azab mereka disebabkan perbuatannya”.(Al-A’raf:96)
Wallahua’lam

No comments:

Post a Comment