Di masa saat ini era dimana kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan
yang telah menjangkau seluruh kalangan masyarakat baik kalangan atas maupun
bawah, banyak orang memuja dan menyanjung itu semua adalah karena ‘kerennya’
ilmu pengetahuan barat. Memang hal itu tidak salah karena saat ini
ilmu-ilmu dan kemajuan itu digaungkan oleh para ilmuwan barat. Tapi tahukah
kita di setiap kelebihan itu pasti terdapat kelemahan signifikan yang sangat
vital. Sebenarnya jauh sebelum kemajuan mereka, ulama-ulama islam telah
membangun kokoh pondasi keilmuwan mereka. Dan apa yang di bangun para ulama
islam terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi selalu berdasar dan berpijak
kedapa nilai-nilai islam. Dan kita tahu nilai-nilai islam harus jadi tolak ukur
pribadi muslim dalam segala hal.
Salah satu kemajuan dan kejayaan ilmu pengetahuan yang di gapai
umat islam saat itu adalah kejayaan dan kemakmuran sistem ekonomi yang di
terapkan. Saat itu umat islam mengalami puncak kemakmuran yang sampai-sampai
zakat pun tidak ada yang mau menerima seperti ketika jaman khalifah Umar bin
Abdul Aziz. Dan saat ini para ekonom muslim mencoba kembali membangun apa yang
diraih di zaman dulu kepada zaman sekarang yang dikenal dengan sistem ekonomi islam.
Jika kita menilik system ekonomi islam yang coba di terapkan pada
sistem perekonomian saat ini, memiliki banyak kelebihan disbanding sistem
ekonomi konvensional. Di dunia barat telah berkembang dua sistem besar yaitu
sosialis dan kapitalis, dan sistem sosialis ini telah menemui masa ajalnya. Sistem
sosialis yang membangga-banggakan system keadilan merata terhadap para labor
force ternyata memiliki dua kelamahan besar yakni kurangnya terhadap pemberian
intensive dan lemahnya system koordinasi. Lalu sistem kapitalis saat ini juga
di ambang kehancurannya. Sebenarnya perbedaan signifikan antara system islam
dan system konvensional selain adanya hukum halal dan haram adalah
variable-variable penyokong di luar variable ekonomi itu sendiri
Dalam system ekonomi konvensional cakupan ilmu ekonomi hanyalah
menyangkut variable penyekong ekonomi itu sendiri, seperti labor, kapital,
penelitian dan pengembangan sumber daya, dan institusi politik pendukung eksisnya
pasar seperti hak milik, menejemen konflik dll. Hal itu semua memang vital
dibutuhkan sebuah sistem perekonomian untuk memperkuat eksistensinya, tapi di
sinilah letak perbedaan dengan sistem ekonomi islam. Ekonomi islam tidaklah
menafikan segala unsure-unsur tadi melainkan terdapat system filterisasi dalam
pengaplikasiannya di masyarakat dan di sini lah letak kelebihan itu di mulai. Dalam
sistem ekonomi islam diterapkan pula variable penting sebagai pemompa
keberkahan dan kemajuan perputaran ekonomi yakni moral dan akhlak individu dan
inilah variable yang tidak diperhatikan dalam system ekonomi barat.
Jika menilik variable moral dan akhlak ini merupakan variable pokok
dan pondasi dalam membangun kekuatan sistem ekonomi islam. Kebijakan dan
keputusan yang di ambil selalu memperhatikan variable ini, para pelaku dan
penggerak pasar pun selalu melihat variable ini dalam kalkulasi pergerakan
ekonomi. Karena mereka semua yakin bahwa
dengan kokohnya variable yang satu ini akan mampu membuka dan melancarkan
kegiatan perekonomian mereka. Sebagai contoh dalam sistem ekonomi capitalis,
para pelaku ekonomi hadnya mempedulikan keuntungan bagi diri mereka sendiri.
Prinsip ‘mencari untung sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya’ mereka
terapkan mentah-mntah tanpa memperhatikan efek dan akibat bagi orang lain. Seperti
ketika korporasi-korporasi multinasional melakukan direct investment ke
Negara-negara berkembang, mereka para pembuat kebijakan hanya memperhatikan
sedikit sekali keuntungan dan manfaat bagi Negara tersebut dan isi-isinya lalu
berujung kepada keterbelakangan dan kerugian bagi Negara tersebut. Simpelnya
mereka para pelaku sistem ekonomi kapitalis hanya mengikuti nafsu tamak mereka.
Dan masih banyak sekali contoh mengenai hal ini yang sangat berbanding terbalik
dengan sistem ekonomi islam.
Kita
lihat dalam sistem islam, para pelaku pasar di himbau untuk memperhatikan
nilai-nilai islam yang menjunjung tinggi moral, akhlak dan persaudaraan. Di
himbau pula para pelaku untuk senantiasa meningkatkan ketaatan kepada yang
mahakuasa karena dengan tingginya takwa pasti akan membawa kebaikan moral dan
akhlak pelaku tersebut. Kemudian berujung pada Allah sang pengatur alam semesta
akan membukakan pintu rezeki dan barokah kepada mereka yang senantiasa taat dan
mengamalkan nilai-nilai islam, sebagaimana dalam surat al-a’raf ayat 92 dan
surat Ibrahim ayat 7, Allah memberikan janji pasti dalam ayat tersebut.
Al-A’raf
: 92
“Jikalau
penduduk suatu negeri mereka beriman dan bertakwa maka Allah akan bukakan pintu
berkah dari langt. Dan jika kalian berdusta atau ingkar maka akan Aku timpakan
kepadanya azab yang pedih”
Ibrahim
: 7
”…Jika
kalian selalu bersyukur dengan nikmat yang ada maka Aku akan senantiasa
tambahkan nikmat tersebut dan jika kau ingkar terhadap nikmatku maka akan
senantiasa Aku kurangin nikmat tersebut.”
Apa yang Allah janjikan benar-benar
telah terjadi, jika kita buka peradaban islam pada masa khulafa ar rasyidin
kemudian dinasti-dinasti kekhalifahan setelahnya, kemajuan peradaban dan
ekonomi mereka mencapai puncak kejayaan di seluruh peradaban yang ada saat itu.
Karena mereka menerapkan variable moral dan akhlak sehingga sistem yang di bawa
pun makin kokoh dan tak tertandingi. Dan inilah salah satu kelebihan dari
banyak kelebihan sistem ekonomi islam di banding ekonomi konvensional yang
telah terbukti dan Allah sendiri yang member garansi akan kemajuannya. Maka
kita sebagai muslim terapkan variable ini jika ingin benar-benar memajukan
sebuah sistem ekonomi yang kuat dan memberi kesejahteraan kepada sheluru
penduduk negeri. Wallahua’alam
No comments:
Post a Comment