Greet


Saturday, January 18, 2014

Moral Pondasi Sistem Ekonomi Islam

Di masa saat ini era dimana kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan yang telah menjangkau seluruh kalangan masyarakat baik kalangan atas maupun bawah, banyak orang memuja dan menyanjung itu semua adalah karena ‘kerennya’ ilmu pengetahuan barat. Memang hal itu tidak salah karena saat ini ilmu-ilmu dan kemajuan itu digaungkan oleh para ilmuwan barat. Tapi tahukah kita di setiap kelebihan itu pasti terdapat kelemahan signifikan yang sangat vital. Sebenarnya jauh sebelum kemajuan mereka, ulama-ulama islam telah membangun kokoh pondasi keilmuwan mereka. Dan apa yang di bangun para ulama islam terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi selalu berdasar dan berpijak kedapa nilai-nilai islam. Dan kita tahu nilai-nilai islam harus jadi tolak ukur pribadi muslim dalam segala hal.

Salah satu kemajuan dan kejayaan ilmu pengetahuan yang di gapai umat islam saat itu adalah kejayaan dan kemakmuran sistem ekonomi yang di terapkan. Saat itu umat islam mengalami puncak kemakmuran yang sampai-sampai zakat pun tidak ada yang mau menerima seperti ketika jaman khalifah Umar bin Abdul Aziz. Dan saat ini para ekonom muslim mencoba kembali membangun apa yang diraih di zaman dulu kepada zaman sekarang yang dikenal dengan sistem ekonomi islam.
Jika kita menilik system ekonomi islam yang coba di terapkan pada sistem perekonomian saat ini, memiliki banyak kelebihan disbanding sistem ekonomi konvensional. Di dunia barat telah berkembang dua sistem besar yaitu sosialis dan kapitalis, dan sistem sosialis ini telah menemui masa ajalnya. Sistem sosialis yang membangga-banggakan system keadilan merata terhadap para labor force ternyata memiliki dua kelamahan besar yakni kurangnya terhadap pemberian intensive dan lemahnya system koordinasi. Lalu sistem kapitalis saat ini juga di ambang kehancurannya. Sebenarnya perbedaan signifikan antara system islam dan system konvensional selain adanya hukum halal dan haram adalah variable-variable penyokong di luar variable ekonomi itu sendiri
Dalam system ekonomi konvensional cakupan ilmu ekonomi hanyalah menyangkut variable penyekong ekonomi itu sendiri, seperti labor, kapital, penelitian dan pengembangan sumber daya, dan institusi politik pendukung eksisnya pasar seperti hak milik, menejemen konflik dll. Hal itu semua memang vital dibutuhkan sebuah sistem perekonomian untuk memperkuat eksistensinya, tapi di sinilah letak perbedaan dengan sistem ekonomi islam. Ekonomi islam tidaklah menafikan segala unsure-unsur tadi melainkan terdapat system filterisasi dalam pengaplikasiannya di masyarakat dan di sini lah letak kelebihan itu di mulai. Dalam sistem ekonomi islam diterapkan pula variable penting sebagai pemompa keberkahan dan kemajuan perputaran ekonomi yakni moral dan akhlak individu dan inilah variable yang tidak diperhatikan dalam system ekonomi barat.
Jika menilik variable moral dan akhlak ini merupakan variable pokok dan pondasi dalam membangun kekuatan sistem ekonomi islam. Kebijakan dan keputusan yang di ambil selalu memperhatikan variable ini, para pelaku dan penggerak pasar pun selalu melihat variable ini dalam kalkulasi pergerakan ekonomi.  Karena mereka semua yakin bahwa dengan kokohnya variable yang satu ini akan mampu membuka dan melancarkan kegiatan perekonomian mereka. Sebagai contoh dalam sistem ekonomi capitalis, para pelaku ekonomi hadnya mempedulikan keuntungan bagi diri mereka sendiri. Prinsip ‘mencari untung sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya’ mereka terapkan mentah-mntah tanpa memperhatikan efek dan akibat bagi orang lain. Seperti ketika korporasi-korporasi multinasional melakukan direct investment ke Negara-negara berkembang, mereka para pembuat kebijakan hanya memperhatikan sedikit sekali keuntungan dan manfaat bagi Negara tersebut dan isi-isinya lalu berujung kepada keterbelakangan dan kerugian bagi Negara tersebut. Simpelnya mereka para pelaku sistem ekonomi kapitalis hanya mengikuti nafsu tamak mereka. Dan masih banyak sekali contoh mengenai hal ini yang sangat berbanding terbalik dengan sistem ekonomi islam.
         Kita lihat dalam sistem islam, para pelaku pasar di himbau untuk memperhatikan nilai-nilai islam yang menjunjung tinggi moral, akhlak dan persaudaraan. Di himbau pula para pelaku untuk senantiasa meningkatkan ketaatan kepada yang mahakuasa karena dengan tingginya takwa pasti akan membawa kebaikan moral dan akhlak pelaku tersebut. Kemudian berujung pada Allah sang pengatur alam semesta akan membukakan pintu rezeki dan barokah kepada mereka yang senantiasa taat dan mengamalkan nilai-nilai islam, sebagaimana dalam surat al-a’raf ayat 92 dan surat Ibrahim ayat 7, Allah memberikan janji pasti dalam ayat tersebut.

Al-A’raf : 92
Jikalau penduduk suatu negeri mereka beriman dan bertakwa maka Allah akan bukakan pintu berkah dari langt. Dan jika kalian berdusta atau ingkar maka akan Aku timpakan kepadanya azab yang pedih” 

Ibrahim : 7
”…Jika kalian selalu bersyukur dengan nikmat yang ada maka Aku akan senantiasa tambahkan nikmat tersebut dan jika kau ingkar terhadap nikmatku maka akan senantiasa Aku kurangin nikmat tersebut.”

            Apa yang Allah janjikan benar-benar telah terjadi, jika kita buka peradaban islam pada masa khulafa ar rasyidin kemudian dinasti-dinasti kekhalifahan setelahnya, kemajuan peradaban dan ekonomi mereka mencapai puncak kejayaan di seluruh peradaban yang ada saat itu. Karena mereka menerapkan variable moral dan akhlak sehingga sistem yang di bawa pun makin kokoh dan tak tertandingi. Dan inilah salah satu kelebihan dari banyak kelebihan sistem ekonomi islam di banding ekonomi konvensional yang telah terbukti dan Allah sendiri yang member garansi akan kemajuannya. Maka kita sebagai muslim terapkan variable ini jika ingin benar-benar memajukan sebuah sistem ekonomi yang kuat dan memberi kesejahteraan kepada sheluru penduduk negeri. Wallahua’alam

No comments:

Post a Comment