Greet


Thursday, May 17, 2012

Selama Masih Ada Setan, Santri Tetep Bisa Nglanggar


            “Selama masih ada setan, santri tetep aja bisa nglanggar”, itulah salah satu perkataan seorang ustadz di sebuah Ma’had (pondok pesantren) ketika sedang rapat membahas aturan-aturan ma’had yang sering dilanggar ama santri-santrinya (hayoo ngakuu santri yg sering nglanggar, hha..).  kalo ga salah waktu itu ustadz ini sedang ngomentarin santri-santri kaburan. Dengan nada yang tenang dan santai beliau membantah dengan perkataan itu, argumen-argumen semua ustadz yang berkomen ini itu ini itu tentang peraturan pondok. Hahaha… memang keren bener ni ustadz, nyantai plus berwibawa.
                Sebenarnya kalo dipikir pikir sih benar juga apa adanya tuh perkataan. Nggak hanya di pondok aja tapi di luar aspek pondok pun juga benar. Sebenarnya di pondok atau bahasa kerennya lagi penjara suci (Holy Jail bro, hahaha) sama di luar pondok pun sama saja, Setan tetep aja menggoda, ga pandang bulu rek…
                Nah inilah yang perlu kita waspadai. Dosa itu nggak muncul cuman gara-gara satu sebab, yaitu lingkungan. Tapi juga ada sebab lain yang lebih dahsyat dari pada sekedar faktor itu.  Yaitu Faktor Niat atau lebih mudahnya keinginan. Nah di faktor inilah setan sering bermain-main. Jadi ndak hanya faktor lingkungan, tapi faktor niat juga bisa membawa kita kepada dosa. Kadang-kadang kita lupa akan hal ini. Terlalu keasyikan dengan faktor lingkungan yang mendukung, akhirnya tanpa disadari dia melakukan dosa akibat setan yang bisikin di hati kita. Boleh jadi faktor menuju dosa sebernya sudah minim, tapi keinginan syahwat kitalah yang menoba mencari-cari celah untuk berdosa. Contohnya aja, seumpama kita tinggal di daerah yang cewek-ceweknya pada bercadar semua (hhe ga pantes bgt yak masak bercadar di bilang cewek). Brarti inikan celah dosa mata sudah terminimalisir. Tapi gara-gara keinginan syahwat yang tak terkontrol akibat bisikan setan, akhirnya kita sendiri yang mencari-cari celah dosa. Mungkin bisa jadi dengan berbagai media yang ada plus dengan kecanggihan teknologi pula yang tersedia, atau mungkin juga dengan khayalan-khayalan kita semisal ‘masha Allah wah tuh akhwat kyaknya ckep tuh, tergambar jelas lewat matanya yg indah’, dan Masha Allah- Masha Allah yg laen lah (hhe, kliatan nek pengalaman bget nih si penulis, jiahahaha, hohoho…).
                Sebenarnya juga nggak salah kalo faktor lingkungan berpengaruh besar terhadap dosa. Tapi kita juga perlu ingat bahwa keinginan atau niat juga berperan besar dalam mencetak dosa. Kalo kita inget ama Bang Napi di Salah satu acara televise, Diapun juga membenarkan. “Ingat tindakan kejahatan itu tidak hanya karena ada kesempatan, tapi juga karena ada keinginan, jadi Waspadalah! Waspadalah!”, begitulah kira-kira kata Bang Napi. Bang Napi aja yang manusia biasa tau akan faktor keinginan atau niat ini, Pasti Allah pun juga lebih tau dalam masalah hal ini. Makanya Salah satu hikmah dari surat An Nas adalah sebagai peringatan tentang masalah ini.  “Aladzi Yuwaswisu fii Suduurin Naas (Dia (setan) yang senantiasa membisiki di hati Manusia)”, inilah salah satu peringatan Allah akan bahaya setan yang senantiasa membisiki hati.
                Oleh karena itu ikhwah, bertempat dimanapun kita di dalam negeri maupaun di luar negeri, tidak hanya faktor lingkungan yang perlu kita bentengi, tapi faktor hati inilah yang lebih perlu untuk  kita bentengi.  Bentengi dengan banyak berdzikir “Fa Dzakkir Fa Inna Dizkro Tanfa’ul Mu’miniin (Berdzikirlah, sesungguhnya Dzikir itu Bermanfaat bagi orang-orang mukmin)”, ingat Allah dan Ingat kematian yang senantiasa membayangi kehidupan kita “Kullu Nafsin Dzaaiqotul Maut (setiap jiwa pasti akan mengalami kematian)”. Maka dengan Benteng kuat yang terbentuk di hati, insha Allah dengan sendirinya benteng tersebut akan melindungi kita dari faktor lingkungan. Wallohu A’lam

1 comment: