“Selama masih ada setan,
santri tetep aja bisa nglanggar”, itulah salah satu perkataan seorang ustadz di
sebuah Ma’had (pondok pesantren) ketika sedang rapat membahas aturan-aturan ma’had
yang sering dilanggar ama santri-santrinya (hayoo ngakuu santri yg sering
nglanggar, hha..). kalo ga salah waktu
itu ustadz ini sedang ngomentarin santri-santri kaburan. Dengan nada yang
tenang dan santai beliau membantah dengan perkataan itu, argumen-argumen semua
ustadz yang berkomen ini itu ini itu tentang peraturan pondok. Hahaha… memang
keren bener ni ustadz, nyantai plus berwibawa.
Sebenarnya kalo dipikir pikir sih benar juga apa
adanya tuh perkataan. Nggak hanya di pondok aja tapi di luar aspek pondok pun
juga benar. Sebenarnya di pondok atau bahasa kerennya lagi penjara suci (Holy
Jail bro, hahaha) sama di luar pondok pun sama saja, Setan tetep aja menggoda,
ga pandang bulu rek…
Nah inilah yang perlu kita waspadai. Dosa itu nggak
muncul cuman gara-gara satu sebab, yaitu lingkungan. Tapi juga ada sebab lain
yang lebih dahsyat dari pada sekedar faktor itu. Yaitu Faktor Niat atau lebih mudahnya
keinginan. Nah di faktor inilah setan sering bermain-main. Jadi ndak hanya
faktor lingkungan, tapi faktor niat juga bisa membawa kita kepada dosa.
Kadang-kadang kita lupa akan hal ini. Terlalu keasyikan dengan faktor
lingkungan yang mendukung, akhirnya tanpa disadari dia melakukan dosa akibat
setan yang bisikin di hati kita. Boleh jadi faktor menuju dosa sebernya sudah minim,
tapi keinginan syahwat kitalah yang menoba mencari-cari celah untuk berdosa.
Contohnya aja, seumpama kita tinggal di daerah yang cewek-ceweknya pada
bercadar semua (hhe ga pantes bgt yak masak bercadar di bilang cewek). Brarti
inikan celah dosa mata sudah terminimalisir. Tapi gara-gara keinginan syahwat
yang tak terkontrol akibat bisikan setan, akhirnya kita sendiri yang
mencari-cari celah dosa. Mungkin bisa jadi dengan berbagai media yang ada plus
dengan kecanggihan teknologi pula yang tersedia, atau mungkin juga dengan
khayalan-khayalan kita semisal ‘masha Allah wah tuh akhwat kyaknya ckep tuh,
tergambar jelas lewat matanya yg indah’, dan Masha Allah- Masha Allah yg laen
lah (hhe, kliatan nek pengalaman bget nih si penulis, jiahahaha, hohoho…).
Sebenarnya juga nggak salah kalo faktor lingkungan
berpengaruh besar terhadap dosa. Tapi kita juga perlu ingat bahwa keinginan
atau niat juga berperan besar dalam mencetak dosa. Kalo kita inget ama Bang
Napi di Salah satu acara televise, Diapun juga membenarkan. “Ingat tindakan
kejahatan itu tidak hanya karena ada kesempatan, tapi juga karena ada
keinginan, jadi Waspadalah! Waspadalah!”, begitulah kira-kira kata Bang Napi.
Bang Napi aja yang manusia biasa tau akan faktor keinginan atau niat ini, Pasti
Allah pun juga lebih tau dalam masalah hal ini. Makanya Salah satu hikmah dari
surat An Nas adalah sebagai peringatan tentang masalah ini. “Aladzi
Yuwaswisu fii Suduurin Naas (Dia (setan) yang senantiasa membisiki di hati
Manusia)”, inilah salah satu peringatan Allah akan bahaya setan yang senantiasa
membisiki hati.
Oleh karena itu ikhwah, bertempat dimanapun kita di
dalam negeri maupaun di luar negeri, tidak hanya faktor lingkungan yang perlu
kita bentengi, tapi faktor hati inilah yang lebih perlu untuk kita bentengi. Bentengi dengan banyak berdzikir “Fa Dzakkir Fa Inna Dizkro Tanfa’ul Mu’miniin
(Berdzikirlah, sesungguhnya Dzikir itu Bermanfaat bagi orang-orang mukmin)”,
ingat Allah dan Ingat kematian yang senantiasa membayangi kehidupan kita “Kullu Nafsin Dzaaiqotul Maut (setiap jiwa
pasti akan mengalami kematian)”. Maka dengan Benteng kuat yang terbentuk di
hati, insha Allah dengan sendirinya benteng tersebut akan melindungi kita dari
faktor lingkungan. Wallohu A’lam
testing
ReplyDelete