“Snow Brown” pasti kata ini kedengaran aneh di telinga kita,
tapi itulah kenyataannya yang terjadi ketika saya rekreasi bareng temen-temen
PPMI Pakistan. Kata itu muncul berawal dari seorang kawan yang ingin menghibur
beberapa teman yang belum ditakdirkan yang Maha Kuasa tuk melihat indahnya snow
white. Sebagai tombo kepada sang teman tersebut, kita meminjam
bahasa filsafat dari abang senior di fakultas Islamic studies. “bro ini lho
yang namanya salju (sambil menunjuk ke arah gumpalan tanah dan batu yg berwarna
abu-abu) dan ini nih yang namanya batu dan tanah (sambil nunjuk tumpukan sisa
kecil salju putih)”
begitulah sedikit cuplikan ‘kejam’ salah seorang kawan
dan terkadang beliau juga nunjuk bungkusan-bungkusan sampah sebagai salju bak
seorang filosof yang pandai mengolah kata-kata. Tapi apalah daya terlepas dari
itu semua apakah beberapa kawan yang belum sempat merasakan dan melihat
hamparan indah salju putih terpuaskan dengan filosof snow brown nya sang
abang tadi, memang hamparan bukit penuh salju itu luar biasa indah sebagaimana
saat saya pertama kali melihat dan menyentuh salju itu berdebar-debar hati
menantikan saat-saat momen tersebut. Jadi wajar jika kawan tadi dalam hati
kecil yang paling dalam tidak terpuaskan.
Begitulah salju musim dingin yang bagi kita orang-orang yang hidup
di iklim tropis pasti sangat ingin melihat dan merasakan salju secara di negeri
kita tercinta hanya ada satu tempat bertumpuk salju yakni di puncak gunung jaya
wijaya Papua. Ketika saya di takdirkan melanjutkan kuliah di Pakistan salah
satu yang jadi keinginanku ya megang dan main-main di tumpukan salju. Dan kala
itu pertama kali saya menginjakan kaki di Pakistan adalah saat musim dingin
puncak-puncaknya yang jelas pasti turun salju. Saat itu saya cuman bisa bayangin
salju itu kayak pasir putih lembut yang dingin dan ketika turun bentuknya bulet-bulet
kayak di kartun-kartun gitu. Ternyata pas pertama kali megang salju, bentuknya
macam es serut yang halus dan lembut, kalau seandainya ada susu kental manis,
tuh salju yang masih baru turun bisa di jadiin es teler mantabh jaya rasa
coklat hahaha.
Tapi jangan salah sangka di tengah keindahan hamparan salju putih
nan indah itu dan uap asap-asap yang semembul dari mulut ketika ngomong, hawa
dan udara ketika salju turun itu sangat lah dingin terkadang rasa dinginnya
seperti menusuk-nusuk tulang belulang. Mungkin ketika dulu kita lihat di
televisi pikiran akan salju cuman yang indah-indah doank padahal aslinya butuh
fisik yang kuat dan fit untuk merasakan suasana salju. Tak jarang pula
kawan-kawan mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Pakistan ketika masuk musim
dingin tejangkit beberapa penyakit minimal sekali ya flu dan pilek. Itulah yang
membuat saya bertanya-tanya walaupun saya sudah berkali-kali ngunjungin tempat
yang bersalju, selalu muncul pertanyaan di benak ini, “Kok bisa ya orang-orang
itu tinggal di daeh salju yang dingin luar biasa”. Kemudian saya nanya
kesana-kemari kepada abang-abang senior dan teman-teman Pakistani tuk nyari
jawaban pertanyaan itu. Dan setelah saya banyak bertanya kesimpulannya ya
mungkin karena mereka udah lahir, tumbuh gede dan beranak pinak di daerah itu
jadi wajar kulitnya tebel dan kebal dingin.
Tapi saya masih sedikit belum puas, lalu saya mencoba menganalisa
kondisi-kondisi tempat mereka tinggal dan bagaimana sosialisasi mereka sehingga
mampu bertahan di cuaca yang ekstrim. Jika kita melihat bentuk-bentuk rumah
penduduk setempat, kita akan bisa melihat atap rumah itu dibangun rendah supaya
ruangan jarak antara atap dan lantai tidak terlalu jauh sehingga rumah itu
tidak banyak kemasukan udara dingin. Itu kondisi dalam rumah, lalu ketika kita
lihat atap atau genting rumah mereka pasti hampir semuanya terbuat dari seng,
alas an kenapa seng karena dengan seng ketika siang hari ada panas matahari ia
mampu menyerap dan menyimpan hawa panas yang cukup lama, sehingga ketika malam
dating serapan hawa panas tadi berguna tuk sedikit menghangatkan malam hari.
Selain atap terbuat dari seng tak jarang pula mereka menyelimuti atap seng tadi
dengan jerami dan tanah sehingga mampu lebih menghangatkan para penghuni di
dalam rumah tersebut.
Lalu jika kita lihat pola bersosialnya mereka, terutama para
pedagang-pedagang di pinggir jalan, mereka selalu berkelompok berkumpul saling
menawari tungku api unggun yang telah dibuat. Dan dari situ mereka saling
mengobrol ditengah kehangatan api unggun sehingga rasa dinginpun seakan
terlupakan karena serunya obrolan mereka. Dan mereka ini orang-orang baik
dengan rela membuat tungku api unggun tanpa di minta lalu menawarkan kepada
orang-orang disekitarnya. Pernah saya lagi nanya-nanya harga jualan pakora,
chips dan garem ande (jenis makanan Pakistan) di warung sebelah api
unggung itu, tiba-tiba saya ditawarin untuk ikut nimbrung menghangatkan badanku
yang menggigil kedinginan. Dan ga pake buang-buang waktu ya langsung aja saya
sambut gayung ajakan tadi sehingga badanku yang menggigil ini mampu terobati
dengan hangatnya api unggun terebut. Sambil ngobrol dan berbagi makanan tadi
bareng temen-temen, ternyata dengan itu bisa sedikit nglupain rasa dingin
menggigil di sekejuru tubuh.
Begitulah seklumit kehidupan ditengah-tengah musim dingin yang
bersalju. Mulai dari kata-kata fisafat ‘kejam’ yang bisa menghibur hati kawan
yang ‘gagal’ menikmati salju, kemudian kondisi-kondisi kehidupan musim salju
sampai ngobrol bareng di tengah api unggun sambil nyemil pakora, semuanya
lengkap tersedia di tengah hiruk pikuk uniknya kehidupan musim dingin di negeri
Muhammad Ali Jinnah Pakistan yang patut disyukuri dan dijalani dengan gembira
dan semangat.

No comments:
Post a Comment