Greet


Tuesday, January 21, 2014

Snow Brown


Snow Brown” pasti kata ini kedengaran aneh di telinga kita, tapi itulah kenyataannya yang terjadi ketika saya rekreasi bareng temen-temen PPMI Pakistan. Kata itu muncul berawal dari seorang kawan yang ingin menghibur beberapa teman yang belum ditakdirkan yang Maha Kuasa tuk melihat indahnya snow white. Sebagai tombo kepada sang teman tersebut, kita meminjam bahasa filsafat dari abang senior di fakultas Islamic studies. “bro ini lho yang namanya salju (sambil menunjuk ke arah gumpalan tanah dan batu yg berwarna abu-abu) dan ini nih yang namanya batu dan tanah (sambil nunjuk tumpukan sisa kecil salju putih)
begitulah sedikit cuplikan ‘kejam’ salah seorang kawan dan terkadang beliau juga nunjuk bungkusan-bungkusan sampah sebagai salju bak seorang filosof yang pandai mengolah kata-kata. Tapi apalah daya terlepas dari itu semua apakah beberapa kawan yang belum sempat merasakan dan melihat hamparan indah salju putih terpuaskan dengan filosof snow brown nya sang abang tadi, memang hamparan bukit penuh salju itu luar biasa indah sebagaimana saat saya pertama kali melihat dan menyentuh salju itu berdebar-debar hati menantikan saat-saat momen tersebut. Jadi wajar jika kawan tadi dalam hati kecil yang paling dalam tidak terpuaskan.
Begitulah salju musim dingin yang bagi kita orang-orang yang hidup di iklim tropis pasti sangat ingin melihat dan merasakan salju secara di negeri kita tercinta hanya ada satu tempat bertumpuk salju yakni di puncak gunung jaya wijaya Papua. Ketika saya di takdirkan melanjutkan kuliah di Pakistan salah satu yang jadi keinginanku ya megang dan main-main di tumpukan salju. Dan kala itu pertama kali saya menginjakan kaki di Pakistan adalah saat musim dingin puncak-puncaknya yang jelas pasti turun salju. Saat itu saya cuman bisa bayangin salju itu kayak pasir putih lembut yang dingin dan ketika turun bentuknya bulet-bulet kayak di kartun-kartun gitu. Ternyata pas pertama kali megang salju, bentuknya macam es serut yang halus dan lembut, kalau seandainya ada susu kental manis, tuh salju yang masih baru turun bisa di jadiin es teler mantabh jaya rasa coklat hahaha.
Tapi jangan salah sangka di tengah keindahan hamparan salju putih nan indah itu dan uap asap-asap yang semembul dari mulut ketika ngomong, hawa dan udara ketika salju turun itu sangat lah dingin terkadang rasa dinginnya seperti menusuk-nusuk tulang belulang. Mungkin ketika dulu kita lihat di televisi pikiran akan salju cuman yang indah-indah doank padahal aslinya butuh fisik yang kuat dan fit untuk merasakan suasana salju. Tak jarang pula kawan-kawan mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Pakistan ketika masuk musim dingin tejangkit beberapa penyakit minimal sekali ya flu dan pilek. Itulah yang membuat saya bertanya-tanya walaupun saya sudah berkali-kali ngunjungin tempat yang bersalju, selalu muncul pertanyaan di benak ini, “Kok bisa ya orang-orang itu tinggal di daeh salju yang dingin luar biasa”. Kemudian saya nanya kesana-kemari kepada abang-abang senior dan teman-teman Pakistani tuk nyari jawaban pertanyaan itu. Dan setelah saya banyak bertanya kesimpulannya ya mungkin karena mereka udah lahir, tumbuh gede dan beranak pinak di daerah itu jadi wajar kulitnya tebel dan kebal dingin.
Tapi saya masih sedikit belum puas, lalu saya mencoba menganalisa kondisi-kondisi tempat mereka tinggal dan bagaimana sosialisasi mereka sehingga mampu bertahan di cuaca yang ekstrim. Jika kita melihat bentuk-bentuk rumah penduduk setempat, kita akan bisa melihat atap rumah itu dibangun rendah supaya ruangan jarak antara atap dan lantai tidak terlalu jauh sehingga rumah itu tidak banyak kemasukan udara dingin. Itu kondisi dalam rumah, lalu ketika kita lihat atap atau genting rumah mereka pasti hampir semuanya terbuat dari seng, alas an kenapa seng karena dengan seng ketika siang hari ada panas matahari ia mampu menyerap dan menyimpan hawa panas yang cukup lama, sehingga ketika malam dating serapan hawa panas tadi berguna tuk sedikit menghangatkan malam hari. Selain atap terbuat dari seng tak jarang pula mereka menyelimuti atap seng tadi dengan jerami dan tanah sehingga mampu lebih menghangatkan para penghuni di dalam rumah tersebut.
Lalu jika kita lihat pola bersosialnya mereka, terutama para pedagang-pedagang di pinggir jalan, mereka selalu berkelompok berkumpul saling menawari tungku api unggun yang telah dibuat. Dan dari situ mereka saling mengobrol ditengah kehangatan api unggun sehingga rasa dinginpun seakan terlupakan karena serunya obrolan mereka. Dan mereka ini orang-orang baik dengan rela membuat tungku api unggun tanpa di minta lalu menawarkan kepada orang-orang disekitarnya. Pernah saya lagi nanya-nanya harga jualan pakora, chips dan garem ande (jenis makanan Pakistan) di warung sebelah api unggung itu, tiba-tiba saya ditawarin untuk ikut nimbrung menghangatkan badanku yang menggigil kedinginan. Dan ga pake buang-buang waktu ya langsung aja saya sambut gayung ajakan tadi sehingga badanku yang menggigil ini mampu terobati dengan hangatnya api unggun terebut. Sambil ngobrol dan berbagi makanan tadi bareng temen-temen, ternyata dengan itu bisa sedikit nglupain rasa dingin menggigil di sekejuru tubuh.
Begitulah seklumit kehidupan ditengah-tengah musim dingin yang bersalju. Mulai dari kata-kata fisafat ‘kejam’ yang bisa menghibur hati kawan yang ‘gagal’ menikmati salju, kemudian kondisi-kondisi kehidupan musim salju sampai ngobrol bareng di tengah api unggun sambil nyemil pakora, semuanya lengkap tersedia di tengah hiruk pikuk uniknya kehidupan musim dingin di negeri Muhammad Ali Jinnah Pakistan yang patut disyukuri dan dijalani dengan gembira dan semangat.  


No comments:

Post a Comment