Greet


Saturday, February 1, 2014

Potensi Hijau Indonesia


             
Jika melihat kondisi akhir-akhir ini negeri kita dilanda banyak krisis, mulai dari krisis pangan hingga krisis moral, semua lengkap terjadi dan berdampak di negeri kita tercinta ini. Semua permasalah krisis-krisis tersebut membutuhkan sebuah solusi yang pas dan tepat terhadap kehidupan penduduk Indonesia. Kita tidak bisa memaksakan sebuah solusi yang tidak tepat dan kurang pas di negeri kita ini.


            Mari kita tengok krisis pangan di negeri ini, sangat tidak pantas jika negeri subur nan kaya sumber daya dari sumber daya alam maupun manusia terkena krisis pangan. Negeri kita sangat besar potensi dalam manggulangi krisis pangan ini jika lau di dukung sepenuhnya oleh semua pihak yang ada. Kita lihat negeri ini kaya akan lahan sawah, perkebunan, dan perhutanan tapi untuk mencukupi kebutuhan pangan nasional negeri kita harus mengimpor ke luar negeri, yang kita tahu konsekuensi dari impor yang tidak terkontrol maka bisa memaatikan potensi domestik. Sebenarnya banyak solusi untuk mengatasinya jikalau manusia Indonesia mau berfikir dan bertindak. Banyak dari kita selalu menyalahkan pemimpin atas tindakan yang lamban terhadap penanggulangan krisis pangan saat ini. Tidak lah elok jika kita hanya bisa menyalahkan gpemerintah, seharusnya kita juga perlu melakukan tindakan yang paling tidak bisa mengatasi krisis tersebut di kalangan keluarga dan kerabat dekat kita.
            Muhaimin Iqbal penulis buku Sharia Economics 2.0 memaparkan sebuah solusi yang bisa dimulai dari lingkup kecil yang nantinya akan berujung pada penanggulangan krisis pangan nasional. Salah satu solusi yang beliau bawakan adalah pemanfaatan lahan nganggur menjadi lahan pertanian, lahan sempit menghasilkan produk pangan. Salah satu teknis pengembangannya adalah dengan banyak menanam produk consumable dan mampu di olah dan di kreasikan. Beliau mencontohkan untuk menanam ubi di lahan perhutanan yang notabene hutan hanya bisa memproduksi bahan non pangan. Kenapa ubi karena dalam penanaman ubi ia tidak memerlukan lahan baru untuk penanaman, jadi bisa memanfaatkan lahan kosong di bawah pohon-pohon lebat. Dan ubi adalah tanaman yang sudah tidak asing bagi bangsa kita dan gizinya bisa sebagai pengganti nasi yang pemproduksiannya membutuhkan kapital besar dan lahan khusus. Selain bisa dikonsumsi langung ubi juga bisa di olah menjdi makanan dengan nilai lebih di pasaran. Jadi tidak hanya menanggulang krisis pangn namun bisa menambah nilai ekonomi seseorang.
            Kemudian beliau juga mengembangkan sebuah ide lahan sempit tapi berproduksi bahan pangan. Sistem Tabulampot atau dikenal tanaman buah dalam pot. Di sini belau mencoba membuat sebuah inovasi yang nantinya setiap orang di perkotaan yang tidak memiliki kebun atau lahan besar bisa menanam tumbuhan yang berbuah dan bisa mencukupi kebutuhan pangannya. Setiap orang nantinya bisa menaman tumbuhan-tumbuhan pangan yang di sukainya hanya dengan pot. Saat ini baru dikembangkan untuk buah anggur dan zaitun dan kedepannya akan dikembangkan lebih jauh.
            Sebenarnya apa yang beliau kembangkan hanyalah sedikit solusi kecil bagi bangsa kita  yang sedang menghadapi masalah krisis yang tidak tahu kapan berakhirnya. Maka kita sebagai generasi penerus tak layak jika hanya diam tanpa membantu mencari solusi untuk masalah ini. Kita bisa saja mengembangkan sebuah metode yang mampu melipat gandakan hasil produksi lahan atau mungkin kita bisa mengembangkan sistem lahan bertingkat untuk efektivitas lahan yang sempit ataupun solusi-solusi lain yang mengatasi krisis pangan tadi. Maka dari itu kita sebegai pemegang estafet pemimpin masa depan untuk terus belajar dan belajar sehingga mampu menciptakan solusi bagi krisis dan permasalahan negeri kita ini.

No comments:

Post a Comment