Mari kita tengok
krisis pangan di negeri ini, sangat tidak pantas jika negeri subur nan kaya
sumber daya dari sumber daya alam maupun manusia terkena krisis pangan. Negeri
kita sangat besar potensi dalam manggulangi krisis pangan ini jika lau di
dukung sepenuhnya oleh semua pihak yang ada. Kita lihat negeri ini kaya akan
lahan sawah, perkebunan, dan perhutanan tapi untuk mencukupi kebutuhan pangan
nasional negeri kita harus mengimpor ke luar negeri, yang kita tahu konsekuensi
dari impor yang tidak terkontrol maka bisa memaatikan potensi domestik.
Sebenarnya banyak solusi untuk mengatasinya jikalau manusia Indonesia mau
berfikir dan bertindak. Banyak dari kita selalu menyalahkan pemimpin atas
tindakan yang lamban terhadap penanggulangan krisis pangan saat ini. Tidak lah
elok jika kita hanya bisa menyalahkan gpemerintah, seharusnya kita juga perlu
melakukan tindakan yang paling tidak bisa mengatasi krisis tersebut di kalangan
keluarga dan kerabat dekat kita.
Muhaimin Iqbal
penulis buku Sharia Economics 2.0 memaparkan sebuah solusi yang bisa
dimulai dari lingkup kecil yang nantinya akan berujung pada penanggulangan
krisis pangan nasional. Salah satu solusi yang beliau bawakan adalah
pemanfaatan lahan nganggur menjadi lahan pertanian, lahan sempit menghasilkan
produk pangan. Salah satu teknis pengembangannya adalah dengan banyak menanam
produk consumable dan mampu di olah dan di kreasikan. Beliau mencontohkan untuk
menanam ubi di lahan perhutanan yang notabene hutan hanya bisa memproduksi
bahan non pangan. Kenapa ubi karena dalam penanaman ubi ia tidak memerlukan
lahan baru untuk penanaman, jadi bisa memanfaatkan lahan kosong di bawah
pohon-pohon lebat. Dan ubi adalah tanaman yang sudah tidak asing bagi bangsa
kita dan gizinya bisa sebagai pengganti nasi yang pemproduksiannya membutuhkan
kapital besar dan lahan khusus. Selain bisa dikonsumsi langung ubi juga bisa di
olah menjdi makanan dengan nilai lebih di pasaran. Jadi tidak hanya
menanggulang krisis pangn namun bisa menambah nilai ekonomi seseorang.
Kemudian beliau
juga mengembangkan sebuah ide lahan sempit tapi berproduksi bahan pangan.
Sistem Tabulampot atau dikenal tanaman buah dalam pot. Di sini belau
mencoba membuat sebuah inovasi yang nantinya setiap orang di perkotaan yang
tidak memiliki kebun atau lahan besar bisa menanam tumbuhan yang berbuah dan
bisa mencukupi kebutuhan pangannya. Setiap orang nantinya bisa menaman
tumbuhan-tumbuhan pangan yang di sukainya hanya dengan pot. Saat ini baru
dikembangkan untuk buah anggur dan zaitun dan kedepannya akan dikembangkan
lebih jauh.
Sebenarnya apa
yang beliau kembangkan hanyalah sedikit solusi kecil bagi bangsa kita yang sedang menghadapi masalah krisis yang
tidak tahu kapan berakhirnya. Maka kita sebagai generasi penerus tak layak jika
hanya diam tanpa membantu mencari solusi untuk masalah ini. Kita bisa saja
mengembangkan sebuah metode yang mampu melipat gandakan hasil produksi lahan
atau mungkin kita bisa mengembangkan sistem lahan bertingkat untuk efektivitas
lahan yang sempit ataupun solusi-solusi lain yang mengatasi krisis pangan tadi.
Maka dari itu kita sebegai pemegang estafet pemimpin masa depan untuk terus
belajar dan belajar sehingga mampu menciptakan solusi bagi krisis dan
permasalahan negeri kita ini.

No comments:
Post a Comment