Greet


Saturday, June 16, 2012

SUKA DUKA HIDUP TANPA PENDAMPING


   Wah jangan mikir yang macem2 dulu rek, memang bener kalo penulis sampai sekarang belum punya pendamping dan masih jadi buronan para ortu calon pendamping, (hehehe pede ne reek2).  Yo bener sih kalo pendamping tuh identikit ama pasangan hidup. Tapi yg tak maksud bukan pndamping kek gtu, tapi pendamping disini adalah SAHABAT. S= setia, A=apikan, H=hadir dikala susah atopun senang, A=aktif menasihati, B=bijaksana, A= opo yo?? Apikan lgi aja lah hehehe, T=tak merugikan (hohoho ga nyangka cak ternyata skrg bisa bikin pilosopi, hha).
            Buat kita2 yg dulu hidup dalam kebersamaan, kekompakan, kesenangan dan kesusahan bersama para sahabat pasti akan kerasa berat dan gimana gituu saat mulai berpisah dan berpencar. Mungkin berpisah karena wisuda atau karena pindah tempat tinggal atau bahkan berpisah karena kematian.

Itu smua pasti akan meninggalkan kenangan tersendiri buat kita. Ternyata memang benar2 mengenangkan. Dulu tatkala masih bersama kita selalu saling menasihati, saling bebagi dikala senang dan saling membantu dikala susah. Dan sekarang, saat kita sudah terpencar karena ingin mengejar cita, suka duka itupun datang.
                Hidup berpencar di daerah perantauan yg berbeda-beda, kesusahan ataupun duka yg ditemui pun juga mesti berbeda-beda pula. Tak ayal virus2 galau pun mulai melanda hati dan pikiran. Lalu virus2 futur n males ngaji mulai hinggap, dan tak lupa pula virus2 tarku amalan2 sunah pun mulai mengakar. Paling tidak itu semua pasti kita rasakan saat ini, karena tak ada sesosok sahabat yg mengingatkan sperti dulu kala. Kalau dulu waktu galau melanda kita punya sahabat yg menjadi tempat curhat kita. Saat futur melanda, ada teman yg slalu menyemangati kita dengan ‘Fastabiqul Khoirot’.  Tapi saat ini tatkala kita sudah berpisah itu semua sangat jarang sekali kita rasakan kembali. Akhirnyapun kita jadi tanpa kendali, merasa seperti bebas dan tak ada yang mengawasi dan ujung2nya kehidupan jadi tiada arti.
memang tak dipungkiri, mencari sesok kawan baru yang sedekat kawan lama ketika dalam masa kebersamaan sangatlah sulit. Masih saling menutup diri karena memang masih baru dikenal, akhirnya pun nasihat menasihati jarang terjadi. Mungkin memang butuh waktu tuk seperti apa yang di inginkan. Terjadi hubungan yang harmoni yang berhiaskan tawashi bil haq dan tawashi bish shobri. Oleh karena itu sembari menunggu waktu tersebut, kita yang dulu pernah hidup bersama dan merasakan susah senang bersama walaupun sekarang sudah tak bersama, tetaplah terus jalin komunikasi guna tuk saling menegur serta menasihati.
Oleh karena itu kawan dimanapun kita berada, kita tetap sahabat. Janganlah putus persahabatan kita hanya karena terpisah raga. Sembari kita mencari kawan-kawan perjuangan baru, kita yang sudah menjadi kawan tetaplah harus bersama dan saling menguatkan diantara kita yang sedang berjuang menggapai cita. Wallahua’lam

No comments:

Post a Comment