Greet


Thursday, November 1, 2012

PRINSIP-PRINSIP PENDIDIKAN ISLAM

(Disadur dari materi kuliah DR Atiq Ur Rehman Statistics For Muslim)

I. Pendahuluan

Bagian 1.3 Permunian Niat Kita

            Sebelum kita memulai, sangat penting untuk memperjelas satu poin yang menjadi sumber banyaknya kebingungan. Semua bentuk perjuangan kita hanyalah didedikasikan untuk Allah semata.
“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’am:162)
Allah ta’ala telah memerintah kita untuk menjadikan Dia sebagai tempat satu-satunya untuk meminta dan untuk mengarahkan semua tujuan kita semata-mata hanya kepada-Nya. Segala bentuk usaha kita, baik di malam hari maupun siang hari, baik untuk diri kita ataupun orang lain, baik untuk kepentingan pribadi maupun kepentingan bersama harus semata-mata hanya untuk Allah ta’ala.

             Sebuah contoh manfaat dari pemurnian, yakni sebuah gerak efektif dari sebuah latihan aerobic mendorong berlawanan sebuah dinding. Hal ini dapat menguatkan otot-otot tangan. Tapi jika seseorang berpersepsi salah dalam tujuan dari gerakan ini adalah hanya untuk memindahkan dinding, maka dia akan segera mungkin hanya merasakan lelahnya. Dia akan mengevaluasi hasil dari usahanya tersebut dengan mengecek apakah dindingnya sudah berpindah atau tidak, daripada memperhitungkan kekuatan dari otot-ototnya. Maka jika seperti itu hanya melihat perubahan posisi dindingnya saja maka sang pelaku pun akan merasa bahwa usaha-usahanya tersebut tidak mendapatkan hasil seperti yang diinginkannya yaitu menggeser dinding. Ada sebuah hadits mengenai fenomena ini yaitu jika kamu sedang menanam sebuah biji dan hari kiamat datang maka tetaplah pada aktivitas menanam tersebut. Hal ini menunjukan bahwa perbuatan-perbuatan kita dilakukan hanya untuk beribadah kepada Allah bukan karena mengharapkan hasil.
             Dalam kebiasaan yang sama, perjuangan kita di Dunia ini adalah untuk meningkatkan kekuatan spiritual kita yang berukur pada kekuatan hubungan kita terhadap Allah. Analogi di atas tadi menggambarkan bahwa kita memang tidak kuat dalam menggeser dinding tersebut padahal Allah mampu memilih sesorang yang lebih bisa untuk menggesernya. Hal tersebut sama halnya dengan kita tidak mampu memberi pencerahan dengan petunjuk-petunjuk Allah kepada orang laing, tapi Allah senang dengan usaha-usaha kita dalam melakukannya padahal Allah aslinya dapat memilih memberikan petunjuk kepada seseorang dengan simpel hanya untuk membuat kita senang dan tidak terepotkan. Hal ini adalah apa yang Allah telah lakukan kepada para sahabat. Allah dibuat senang oleh mereka dan begitu juga Allah memebuat mereka senang.
             Dalam perjuangan kita untuk membawa agama ini kepada bagian-bagian yang berbeda dalam hidup kita, kita bisa mungkin bisa tidak usaha kita diganti dengan sebuah hasil duniawi, hal ini tergantung kehendak Allah. Yang pasti hasil-hasil dari usaha kita akan ditampakkan d i hati kita. Seperti hubungan kita dengan Allah makin kuat dan kita mendapat peningkatan dalam kekhusyu’an, terus menerus mengingat Allah, tawakal, takwa dan lain sebagainya, maka usaha-usaha kita tersebut sedang mendapatkan ganjaran seperti yang telah Allah janjikan:
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”. (Al-Ankabut: 69)
Mendapatkan atau tidak hasil duniawi saat kita berjuang hal ini tergantung kehendak Allah, pasrah dan tunduk sajalah kita terhadap kehendak Allah, dan menerima apa-apa yang telah ditulis (ditakdirkan)  untuk kita adalah merupakan bagian dari pengertian islam itu sendiri. (bersambung)

No comments:

Post a Comment