(Disadur dari materi kuliah DR Atiq
Ur Rehman Statistics For Muslim)
I. Pendahuluan
Bagian 1.3 Permunian Niat Kita
Sebelum kita
memulai, sangat penting untuk memperjelas satu poin yang menjadi sumber
banyaknya kebingungan. Semua bentuk perjuangan kita hanyalah didedikasikan
untuk Allah semata.
“Katakanlah:
sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah,
Tuhan semesta alam.” (Al-An’am:162)
Allah ta’ala
telah memerintah kita untuk menjadikan Dia sebagai tempat satu-satunya untuk
meminta dan untuk mengarahkan semua tujuan kita semata-mata hanya kepada-Nya.
Segala bentuk usaha kita, baik di malam hari maupun siang hari, baik untuk diri
kita ataupun orang lain, baik untuk kepentingan pribadi maupun kepentingan
bersama harus semata-mata hanya untuk Allah ta’ala.
Sebuah contoh manfaat dari pemurnian,
yakni sebuah gerak efektif dari sebuah latihan aerobic mendorong berlawanan
sebuah dinding. Hal ini dapat menguatkan otot-otot tangan. Tapi jika seseorang
berpersepsi salah dalam tujuan dari gerakan ini adalah hanya untuk memindahkan
dinding, maka dia akan segera mungkin hanya merasakan lelahnya. Dia akan
mengevaluasi hasil dari usahanya tersebut dengan mengecek apakah dindingnya
sudah berpindah atau tidak, daripada memperhitungkan kekuatan dari
otot-ototnya. Maka jika seperti itu hanya melihat perubahan posisi dindingnya
saja maka sang pelaku pun akan merasa bahwa usaha-usahanya tersebut tidak
mendapatkan hasil seperti yang diinginkannya yaitu menggeser dinding. Ada sebuah
hadits mengenai fenomena ini yaitu jika kamu sedang menanam sebuah biji dan
hari kiamat datang maka tetaplah pada aktivitas menanam tersebut. Hal ini
menunjukan bahwa perbuatan-perbuatan kita dilakukan hanya untuk beribadah kepada
Allah bukan karena mengharapkan hasil.
Dalam kebiasaan yang sama,
perjuangan kita di Dunia ini adalah untuk meningkatkan kekuatan spiritual kita
yang berukur pada kekuatan hubungan kita terhadap Allah. Analogi di atas tadi
menggambarkan bahwa kita memang tidak kuat dalam menggeser dinding tersebut
padahal Allah mampu memilih sesorang yang lebih bisa untuk menggesernya. Hal tersebut
sama halnya dengan kita tidak mampu memberi pencerahan dengan petunjuk-petunjuk
Allah kepada orang laing, tapi Allah senang dengan usaha-usaha kita dalam
melakukannya padahal Allah aslinya dapat memilih memberikan petunjuk kepada
seseorang dengan simpel hanya untuk membuat kita senang dan tidak terepotkan. Hal
ini adalah apa yang Allah telah lakukan kepada para sahabat. Allah dibuat
senang oleh mereka dan begitu juga Allah memebuat mereka senang.
Dalam perjuangan kita untuk
membawa agama ini kepada bagian-bagian yang berbeda dalam hidup kita, kita bisa
mungkin bisa tidak usaha kita diganti dengan sebuah hasil duniawi, hal ini
tergantung kehendak Allah. Yang pasti hasil-hasil dari usaha kita akan
ditampakkan d i hati kita. Seperti hubungan kita dengan Allah makin kuat dan
kita mendapat peningkatan dalam kekhusyu’an, terus menerus mengingat Allah,
tawakal, takwa dan lain sebagainya, maka usaha-usaha kita tersebut sedang
mendapatkan ganjaran seperti yang telah Allah janjikan:
“Dan
orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-
benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya
Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”. (Al-Ankabut: 69)
Mendapatkan atau
tidak hasil duniawi saat kita berjuang hal ini tergantung kehendak Allah,
pasrah dan tunduk sajalah kita terhadap kehendak Allah, dan menerima apa-apa
yang telah ditulis (ditakdirkan) untuk
kita adalah merupakan bagian dari pengertian islam itu sendiri. (bersambung)
No comments:
Post a Comment