Greet


Sunday, February 23, 2014

KARAKTERISTIK EKONOMI ISLAM

Saat ini masih banyak diantara pelajar tidak mengetahui cirri-ciri spesifik ekonomi islam. Bahkan beberapa sarjana dan ekonom masih mengatakan bahwa ekonomi islam tidak memiliki karakteristik khusus yang membedakan dengan sistem konvensional. Tak sedikit dari mereka yang mencoba mengkaburkan sistem islam dengan menyamakan dengan sistem lain sesuai condong mereka. Mereka yang condong ke sistem sosialis akan mengatakan bahwa ekonomi islam itu sama dengan ekonomi sosialis. Dan yang condong ke kapitalis akan mengatakan sebaliknya.

            Sebenarnya ekonomi islam itu memiliki karakteristik spesifik yang membedakan ia dengan kapitalis maupun sosialis. Kita tahu bahwa sistem sosialis adalah kebalikan dari sistem kapitalis. Sosialis muncul sebagai kritik akan gagalnya sistem kapitalis di abad pertengahan. Namun sosialispun juga berujung pada kehancuran. Jika kita merujuk pada ekonom barat mereka mengklasifikasikan beberapa criteria sehingga sistem ekonomi itu bisa disebut sebagai benar-benar sistem. Sistem kapitalis maupun sosialis pun juga berpacu pada criteria tersebut.
            Ada lima criteria sehingga sistem itu bisa disebut sebagai sistem menurut ilmuwan barat. Pertama adalah status kepemilikan sebuah property atau sumber daya, lalu yang kedua adalah sifat dari kebebasan ekonomi, lalu ketiga adalah mekanisme intensif, kemudian yang keempat adalah institusi pembuat keputusan lalu yang terakhir adalah distribusi pendapatan. Lima criteria tersebut dimiliki oleh sistem konvensional, begitu juga sistem islam yang memenuhi syarat tersebut seperti yang dikemukakan oleh pakar perbankan islam Pakistan DR. Atiquzzafar Khan.
            Beliau mengatakan bahwa ekonomi islam sangat memenuhi criteria tersebut dan bisa dikatakan ekonomi islam adalah jalan tengah dari kedua sistem tersebut. Ekonomi islam memliki criteria sesuai apa yang pakar barat tetapkan. Cirri yang pertama mengenai status hak kepemilikan, dalam islam status pemilik sebenarnya segala sesuatu yang ada di ala mini adalah Allah kemudian status manusia hanya sebagai  orang yang dititipi oleh Allah yang harus bertanggung jawab memegangnya dan mengolahnya dengan baik.
            Lalu cirri kedua mengenai sifat kebebasan dalam berekonomi, dalam islam sistem yang diterapkan adalah bebas tapi ada batasan, yakni batasan halal dan haram. Jadi dalam islam tidak bisa serta merta melakukan tindakan mencari keuntungan dengan menghalalkan segala cara dan merugikan banyak orang, semua ada batasannya. Kemudian cirri yang ketiga adalah mekanisme insentif, dalam islam menerapkan model pencapaian falah (kemakmuran atau kemenangan). Makna falah disini tidak hanya mencakup personal interest melainkan juga mencakup social interest, sehingga kemakmuran pun akan tersebar di kehidupan masyarakat luas.
            Lalu cirri berikutnya adalah institusi dan proses pembuat keputusan, dalam islam sistem pasar dibawah supervisi atau pengawasan Negara. Seperti pada era khalifah Umar bin Khattab beliau membentuk institusi hibah sebagai pengawas berjalannya sistem pasar. Jadi keputusan ekonomi tidak total dipegang oleh pasar melainkan melalui pengawasan Negara, jika ada yang tidak sejalan dengan nilai islam maka akan dilarang. Kemudian cirri terakhir tentang distribusi pendapatan, dalam islam pendapatan harus didistribusikan secara adil tidak boleh hanya berputar beberapa tangan saja. Dalam islam pun mengakui adanya ketidakadilan ekonomi tapi dalam taraf yang sewajarnya dan tidak terlalu besar gap antara kaya dan miskin. Karena dalam islam menerapkan sistem zakat, infak dan shadaqah untuk membantu mensirkulasikan pendapatan tidak hanya ditangan orang-orang kaya melainkan juga berputar ditangan orang-orang yang tidak mampu. Sehingga sirkulasi keuangan merata kesemua lini masyarakat walaupun tetap ada ketidakadilan ekonomi tapi dalam taraf yang wajar.
            Jadi sekali lagi ekonomi islam itu memiliki cirri yang spesifik yang membedakan dengan sistem konvensional. Jadi tidak bisa kita katakan bahwa sistem islam mirip dengan sistem sosialis ataupun kapitalis karena pendapat tersebut hanya akan mengkaburkan sistem ekonomi islam dengan sistem konvensional saat sistem islam mulai menunjukan taringnya di kancah internasional. Wallahua’lam
           

No comments:

Post a Comment