Greet


Sunday, February 2, 2014

Simpel Tapi Mengena

               
Hari ini pas capek-capek banget, baru selesai 9 hari seminar terus lanjut main sepak bola, rasanya badan pengen cepet istirahat. Tapi siangnya kita ada dua agenda yang sama-sama penting. Agenda taklim rutin pekanan setiap sabtu siang sama agenda kumpul ama mutazawwijiin. Badan capek ini saya paksa pokoknya harus ikut taklim walaupun capek terus belum persiapan untuk acara kumpul setelahnya. Qadarullah semua rasa capek dan pegel badan ini terasa terobati ketika sampai di tempat taklim. Subhanallah tanpa di duga ustadz pengisi taklim ushul fiqih yang biasanya ngisi kita lagi ada agenda di kampus IIUI. Kemudian sang ayah ustadz tersebut kebetulan datang di masjid tersebut dan beliau mengganti untuk ngisi taklim kita. Sang ayah ustadz kita tadi adalah ustadz DR. Fadhlu Ilaihi, seorang ulama senior dan masyhur di Pakistan terutama di kalangan kelompok Ahlu-e-hadith. Sungguh alangkah senangnya kami dengan kesempatan itu, karena banyak ikhwah-ikhwah kita ingin sekali belajar dengan beliau tapi belum di takdirkan kesampaian.
            Sebenarnya beliau mengisi kita hanya sekedar memberikan nasihat-nasihat keimanan. Nasihat simpel yang sangat mengena ke dalam relung hati kita. Dengan suara yang masih lantang berapi-api di usia yang senja beliau menyampaikan nasihat sebuah ayat, yakni surat Al-Hasyr ayat 7, “Apa-apa yang tekah dibawa oleh Rosulullah Shalallahu Alaihi Wassalam maka ambilah dan apa-apa yang telah beliau larang maka jauhilah….”. Ayat tersebut kata beliau adalah salah satu asas pokok dari asas-asas islam. Islam memiliki banyak asas dan pondasi dan kandungan dari ayat tersebut merupakan salah satu asas pokok darinya.
            Jadi kita sebagai pengikut Rasulullah haruslah mengedepankan syariat-syariat yang telah di bawa oleh Rasul Muhammad shalallahu alaihi wassalam. Beliau memberikan beberapa kisah sahabat mengenai hal tersebut. Sahabat agung nan mulia yang dijanjikan Allah surge saja selalu mengedepankan perintah-perintah Rasulullah. Sekelas Abu Bakar Ash Shidiq sahabat terbaik yang di janjikan surge oleh Allah tak pernah arogan dengan posisinya. Tatkala beliau salah dan menyelisihi perintah rosulullah kemudian di tegur oleh Umar Bin Khattab dengan hujjah hadits Rasulullah, beliau Abu Bakar langsung membenarkan perkataan Umar dan mengakui kesalahannya.
Kemudian sekelas Umar sang Amirul mukminin salah menyikapi permasalahan hukum perajaman. Ketika di tegur Ali bin Abi Talib dengan hadits Rasulullah, beliau Umar langsung bahagia karena Umar terselamatkan dari kesalahan,  dan segera beliau membenarkan hujjah Ali. Begitu pula dengan Ali yang melakukan kesalahan lalu ditegur Ibnu Abbas dengan perkataan Rasulullah, Ali langsung membenarkan hujjah Ibnu Abbas dan mengakui kesalahannya. Dan kejadian di atas mereka akui dengan senang kalau salah kemudian langsung kembali ke hujjah yang benar tanpa sikap arogan karena memiliki posisi.
Benar-benar simpel tapi pas sekali dan mengena dengan kondisi kebanyakan kita saat ini. Di zaman sekarang ini banyak orang yang bermaksiat dengan pede namun ketika di tegur dengan hujjah-hujjah yang bersandar dengan Quran dan sunnah, mereka malah bersikap arogan tidak menerima teguran karena gengsi atau malu lah dengan jabatan atau posisi. Pedoman hidup banyak di tinggalkan tapi saat diingatkan malah benci dan marah.
Coba dibayangkan jika orang-orang sekarang meniru sikap yang dilakukan para sahabat  saat salah dan segera kembali ke hujjah yang benar, maka bisa di pastikan insha Allah, era kebangkitan dan kemajuan seperti zaman umar dapat terulang kembali saat ini. Semua bersikap mengedepankan Quran dan sunnah, tidak malu mengakui kesalahan dan segera kembali ke yang benar tanpa ‘muni-muni”, insha Allah keberkahan kembali menghampiri kita kaum muslimin di akhir zaman. Wallahua’lam

No comments:

Post a Comment