Di artikel yang
lalu saya telah menulis tentang moral sebagai variabel pondasi ekonomi islam,
maka pada artikel ini saya akan melanjutkan mengenai variabel ekonomi islam
selanjutnya. Pembentukan moral sebagai variabel pondasi ekonomi islam
membutuhkan variabel yang lain untuk menguatkan dan memuluskan pondasi
tersebut. Variabel pendukung tersebut adalah sosioekonomi. Variabel yang
mencakup hubungan sosial dan humanitarian dalam membentuk kekuatan ekonomi. Dalam
ekonomi islam hal ini merupakan bagian yang tak bisa di lepaskan, karena visi
dari ekonomi islam dalam memaknai prinsip kesejahteraan sangat komperhensif
berbeda dengan ekonomi konvensional. DR. Umer Chapra pakar ekonomi islam asal
Pakistan mengatakan dalam bukunya the future of economic: an Islamic perspective,
bahwa makna visi kesejahteraan dalam ekonomi islam sangat dalam. Tak hanya
melihat perspektif pribadi individu namun juga melihat kepentingan sosial masyarakat.
Dan ini sangat berbeda dengan prinsip barat yang memaknai kesejahteraan hanya
dengan sisi kepentingan individu.
Maka ketika islam
memandang kesejahteraan mencakup kepentingan diri dan sosial, variabel hubungan
sosial dan humanitarian masuk dalam nilai pembentuk ekonomi. Maka pembentukan
variabel ini perlu di mulai dari lingkungan keluarga yakni cakupan sosial yang
paling sederhana. Keluarga inilah pionir pembentuk kekuatan variabel
sosioekonomi. Di sinilah kekuatan moral dibangun dan digembleng untuk cakupan sosial
yang lebih besar dan nilai kemanusiaan di tanam.
Di dalam islam semua anggota keluarga dilatih dan diperintahkan
untuk bertanggung jawab atas anggota lain. Semua anggota saling memperbaiki dan
menanam nilai-nilai agama dan moral kemanusiaan. Karena Allah memerintahkan ”Lindungi
dirimu dan keluargamu dari api neraka”. Ayat ini memerintahkan sikap
tanggung jawab untuk diri dan anggota keluarga. Maka bermodal perintah Allah
dan Rasulullah penggemblengan di dalam lingkup keluarga ini akan makin kuat dan
kokoh, sehingga setiap individu keluarga tesebut siap terhadap cakupan interaksi
sosial dan kemanusiaan yang lebih besar. Maka jika kekuatan nilai-nilai yang
telah tertanam kuat maka orientasi dalam ekonomi pun akan melihat aspek pribadi
dan masyarakat atau bahkan aspek masyarakat didahulukan ketimbang aspek
pribadi.
Inilah keunggulan sistem ekonomi islam, yang mana memiliki variabel
yang memperhatikan aspek sosial dan kemanusiaan sehingga visi yang dimiliki
berbeda dengan visi ekonomi konvensional. Kita tahu bahwa dalam ekonomi
konvensional prinsip ekonomi manusia adalah rasional yakni mementingkan
kepuasan dan pendapatan semaksimal mungkin untuk individual. Dan prinsip
terebut akan membawa konsekuensi ketidak seimbangan di dalam masyarakat, karena
semua individu hanya mementingkan kepentingan pribadi sehingga mereka rela
mengorbankan pihak yang lain termasuk keluarga yang di dalam islam ia adalah
termasuk pondasi penting. Walhasil kondisi kemrosotan ekonomi yang saat ini
kita hadapi adalah buah dari pengaplikasian sistem ekonomi barat. Maka tak
heran korupsi, penggelapan uang serta penerapan sistem bunga yang tinggi, semua
terjadi di masyarakat.
Di sinilah celah ekonomi islam dalam memberikan solusi jangka
panjang. Pembentukan variabel moral yang di dukung variabel sosial dan
kemanusiaan yang dibangun dan ditanam dari lingkup keluarga memerlukan jangka
panjang. Tapi dari sisi tersebutlah ekonomi islam akan membawa prospek
kemakmuran di kemudian hari dan mengganti sistem kapitalis barat yang mulai
menapaki kehancurannya. Karena rangkaian variabel tersebut akan menghasilkan
SDM-SDM yang kuat dan kokoh dalam membangun kemajuan ekonomi ummat. Wallahua’lam

No comments:
Post a Comment