Greet


Monday, February 3, 2014

Keluarga Penyokong Variabel Ekonomi Islam

          
Kita tahu di zaman ini degradasi moral berada pada puncaknya dan di prediksi akan makin parah kerusakannya jika tidak segera di tanggulangi. Semua jenis kerusakan sudah tersebar di mana-mana tak terkendali mulai dari barat hingga timur tanpa terkecuali. Akhirnya degradasi moral tersebut menyebabkan lini-lini penopang kehidupan masyarakat hancur berantakan. Politik, pendidikan, ekonomi serta yang lainnya terkena imbasnya. Nah ini tugas kita sebagai pemuda penerus ummat dan bangsa untuk mencari solusi dan memperbaiki keadaan di masa depan termasuk permasalahan ekonomi umat islam yang saat ini tengah merosot.
            Di artikel yang lalu saya telah menulis tentang moral sebagai variabel pondasi ekonomi islam, maka pada artikel ini saya akan melanjutkan mengenai variabel ekonomi islam selanjutnya. Pembentukan moral sebagai variabel pondasi ekonomi islam membutuhkan variabel yang lain untuk menguatkan dan memuluskan pondasi tersebut. Variabel pendukung tersebut adalah sosioekonomi. Variabel yang mencakup hubungan sosial dan humanitarian dalam membentuk kekuatan ekonomi. Dalam ekonomi islam hal ini merupakan bagian yang tak bisa di lepaskan, karena visi dari ekonomi islam dalam memaknai prinsip kesejahteraan sangat komperhensif berbeda dengan ekonomi konvensional. DR. Umer Chapra pakar ekonomi islam asal Pakistan mengatakan dalam bukunya the future of economic: an Islamic perspective, bahwa makna visi kesejahteraan dalam ekonomi islam sangat dalam. Tak hanya melihat perspektif pribadi individu namun juga melihat kepentingan sosial masyarakat. Dan ini sangat berbeda dengan prinsip barat yang memaknai kesejahteraan hanya dengan sisi kepentingan individu.
            Maka ketika islam memandang kesejahteraan mencakup kepentingan diri dan sosial, variabel hubungan sosial dan humanitarian masuk dalam nilai pembentuk ekonomi. Maka pembentukan variabel ini perlu di mulai dari lingkungan keluarga yakni cakupan sosial yang paling sederhana. Keluarga inilah pionir pembentuk kekuatan variabel sosioekonomi. Di sinilah kekuatan moral dibangun dan digembleng untuk cakupan sosial yang lebih besar dan nilai kemanusiaan di tanam.  
Di dalam islam semua anggota keluarga dilatih dan diperintahkan untuk bertanggung jawab atas anggota lain. Semua anggota saling memperbaiki dan menanam nilai-nilai agama dan moral kemanusiaan. Karena Allah memerintahkan ”Lindungi dirimu dan keluargamu dari api neraka”. Ayat ini memerintahkan sikap tanggung jawab untuk diri dan anggota keluarga. Maka bermodal perintah Allah dan Rasulullah penggemblengan di dalam lingkup keluarga ini akan makin kuat dan kokoh, sehingga setiap individu keluarga tesebut siap terhadap cakupan interaksi sosial dan kemanusiaan yang lebih besar. Maka jika kekuatan nilai-nilai yang telah tertanam kuat maka orientasi dalam ekonomi pun akan melihat aspek pribadi dan masyarakat atau bahkan aspek masyarakat didahulukan ketimbang aspek pribadi.
Inilah keunggulan sistem ekonomi islam, yang mana memiliki variabel yang memperhatikan aspek sosial dan kemanusiaan sehingga visi yang dimiliki berbeda dengan visi ekonomi konvensional. Kita tahu bahwa dalam ekonomi konvensional prinsip ekonomi manusia adalah rasional yakni mementingkan kepuasan dan pendapatan semaksimal mungkin untuk individual. Dan prinsip terebut akan membawa konsekuensi ketidak seimbangan di dalam masyarakat, karena semua individu hanya mementingkan kepentingan pribadi sehingga mereka rela mengorbankan pihak yang lain termasuk keluarga yang di dalam islam ia adalah termasuk pondasi penting. Walhasil kondisi kemrosotan ekonomi yang saat ini kita hadapi adalah buah dari pengaplikasian sistem ekonomi barat. Maka tak heran korupsi, penggelapan uang serta penerapan sistem bunga yang tinggi, semua terjadi di masyarakat.
Di sinilah celah ekonomi islam dalam memberikan solusi jangka panjang. Pembentukan variabel moral yang di dukung variabel sosial dan kemanusiaan yang dibangun dan ditanam dari lingkup keluarga memerlukan jangka panjang. Tapi dari sisi tersebutlah ekonomi islam akan membawa prospek kemakmuran di kemudian hari dan mengganti sistem kapitalis barat yang mulai menapaki kehancurannya. Karena rangkaian variabel tersebut akan menghasilkan SDM-SDM yang kuat dan kokoh dalam membangun kemajuan ekonomi ummat. Wallahua’lam

No comments:

Post a Comment