Alkisah dahulu saat zaman keemasan kekhalifahan Abbasiyah,
kekuasaan islam telah membentang dari barat hingga timur, dari Eropa Andalusia
(Spanyol saat ini) hingga Asia kecil. Pada zaman itu pula telah melahirkan
beribu ribu ulama di segala bidang mulai dari bidang syariah hingga bidang
ilmu-ilmu eksak. Begitu pula di negeri Andalusia yang terkenal dengan istana
megah Alhambra, banyak melahirkan ulama-ulama yang mahir diberbagai
bidang. Salah satu dari sekian ribu ulama Andalusia adalah Baqi’ Ibnu Mukhlit
Al-Andalusy. Beliau adalah seorang ulama ahli hadits. Ulama yang sangat juhud
dan alim di bidangnya. Dalam hidupnya, umur beliau senantiasa dihabiskan
untuk berkeliling mencari hadits keberbagai ulama di seluruh Andalusia. Beliau
bukanlah termasuk ulama yang mempunyai harta yang cukup, beliau adalah ulama
yang fakir dalam harta, tapi kefakiran tersebut tidak menyurutkan beliau untuk
berkeliling mencari hadits di seantero Andalusia.
Suatu saat
beliau berinisiatif untuk bertanya kepada setiap ulama yang beliau temui
perihal siapakah orang yang paling alim yang hidup pada saat itu. Setiap kali
beliau bertanya kepada ulama yang beliau temui, mereka berkata bahwa orang yang
paling alim tersebut adalah Al Imam Ahmad bin Hanbal. Dan seluruh ulama
Andalusia mengatakan hal yang serupa yakni Imam Ahmad bin Hanbal. Akhirnya hal
ini membuat Baqi ibnu Mukhlit tadi sangat penasaran dengan imam Ahmad dan ingin
bertemu dengan beliau secara langsung dan mengambil sanad hadist ke beliau. Akhirnya
ia bertanya kepada seorang ulama tentang dimanakah keberadaan Imam Ahmad, ulama
tadi memberitahunya bahwa beliau imam Ahmad tinggal di ibukota khalifah
Abbasiyah yakni Baghdad.
Beliau Baqi
ibnu Mukhlit akhirnya memutuskan untuk berangkat ke Baghdad. Walaupun jarak
antara Andalusia dengan Bagdad sangatlah jauh, beliau tetap memutuskan untuk
berangkat ke Bagdad. Bebekal seadanya beliau akhirnya berangkat menuju Baghdad
dengan jalan kaki. Walhasil perjalanan beliau memakan waktu yang sangat panjang
untuk mencapai Bagdad, yakni lima tahun. Beliau setiap kali menyinggahi suatu
tempat selalu menyempatkan untuk bekerja agar bisa menghasilkan uang untuk
beliau belikan perbekalan. Dan itu beliau lakukan terus menerus hingga mencapai
bagdad demi mendapatkan ilmu dari seorang yang paling alim saat itu.
Setelah
sampai di Baghdad keadaan yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang Baqi
pikirkan. Beliau berpikir pasti akan mudah menemui seorang alim besar yang
masyhur seperti imam Ahmad. Kenyataannya sungguh berbalik dengan apa yang
beliau pikirkan. Saat itu yang Khalifah yang berkuasa adalah Al-Makmun yang
terkenal dengan syubhat Al-Qur’an adalah makhluk. Kemuadian sampailah Baqi
disuatu masjid besar yang didalamnya terdapat halaqoh besar yang dipimpin oleh
seorang Ulama yakni Yahya bin Ma’in.
Beliau Yahya bin Ma’in adalah seorang ulama ahli dalam bidang Jarh Wa
Ta’dil. Kemudian Baqi’ menemui beliau untuk membuktikan benarkah beliau
mahir dalam bidang jarh wa ta’dil. Baqi menanyakan tentang beberapa
ulama perawi hadits dari Andalusia dan beliau Yahya bin Ma’in mampu menjelaskan
secara detail tentang sifat-sifat dan nasab seluruh ulama-ulama di Andalusia.
Setelah merasa yakin Baqi lalu bertanya kepada Beliau siapakah ulama yang
paling alim di dunia ini. Beliau Yahya menjawab dengan hal serupa yang dijawab
oleh para ulama Andalusia, yakni Al Imam Ahmad bin Hanbal. Dan Beliau Yahya
memberi tahu bahwa imam Ahmad sedang dipenjara oleh penguasa karena menentang
pemikiran ulama Al-Qur’an adalah makhluk. Pada saat itu imam Ahmad dipenjara
dirumahnya, beliau dilarang mengeluarkan fatwa, dilarang memberi taklim
dilarang menerima tamu yang meminta fatwa ke beliau.
Baqi bin
Mukhlit tak mau sia-sia dalam kunjungan safar ilmunya ke bagdad untuk bertemu
dengan beliau imam Ahmad. Akhirnya pun Baqi’ harus rela menyamar menjadi
seorang pengemis supaya bisa menjadi kamuflase untuk bertemu dan mengambil
hadits ke beliau Imam Ahmad bin Hanbal.
Nah ikhwah sekalian, kutipan cerita
di atas penuh dengan pelajaran serta hikmah yang bisa kita ambil, mengingat
kita saat ini adalah seorang Tholibul ilmi. Walaupun beliau fakir dalam
harta beliau tetap bersikukuh dan rela berjalan beribu ribu kilometer demi
mencari ilmu. Kemudian rela menjadi seorang pengemis supaya bisa mendapatkan
ilmu dari imam Ahmad bin Hanbal. Maka dari itu ikhwah mari kita senantiasa
perbarui semangat kita dalam mencari ilmu. Janganlah kita menyerah hanya dalam
mencari ilmu hanya karena permasalahan-permasalahan kecil yang menghadangi
kita. Ingat seorang ahli ilmu itu adalah pewaris para nabi dan lebih tinggi
derajatnya dari pada seorang ahli ibadah. Seperti yang disabdakan Rosulullah, “Dan sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu atas ahli ibadah
seperti keutamaan bulan purnama atas semua bintang-bintang. Dan sesungguhnya
para ulama adalah pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi itu tidak
mewariskan dinar dan dirham, tetapi mewariskan ilmu. Barangsiapa yang
mengambilnya maka dia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR Abu Dawud). Oleh karena itu kita tak boleh putus
asa dalam mencari rahmat Allah yakni mencari ilmu walaupun harus pergi
meninggalkan keluarga serta kampung halaman kita. Wallahua’lam
No comments:
Post a Comment