Greet


Tuesday, September 18, 2012

BAQI’ IBNU MUKHLIT AL-ANDALUSY

         Alkisah dahulu saat zaman keemasan kekhalifahan Abbasiyah, kekuasaan islam telah membentang dari barat hingga timur, dari Eropa Andalusia (Spanyol saat ini) hingga Asia kecil. Pada zaman itu pula telah melahirkan beribu ribu ulama di segala bidang mulai dari bidang syariah hingga bidang ilmu-ilmu eksak. Begitu pula di negeri Andalusia yang terkenal dengan istana megah Alhambra, banyak melahirkan ulama-ulama yang mahir diberbagai bidang. Salah satu dari sekian ribu ulama Andalusia adalah Baqi’ Ibnu Mukhlit Al-Andalusy. Beliau adalah seorang ulama ahli hadits. Ulama yang sangat juhud dan alim di bidangnya. Dalam hidupnya, umur beliau senantiasa dihabiskan untuk berkeliling mencari hadits keberbagai ulama di seluruh Andalusia. Beliau bukanlah termasuk ulama yang mempunyai harta yang cukup, beliau adalah ulama yang fakir dalam harta, tapi kefakiran tersebut tidak menyurutkan beliau untuk berkeliling mencari hadits di seantero Andalusia.

            Suatu saat beliau berinisiatif untuk bertanya kepada setiap ulama yang beliau temui perihal siapakah orang yang paling alim yang hidup pada saat itu. Setiap kali beliau bertanya kepada ulama yang beliau temui, mereka berkata bahwa orang yang paling alim tersebut adalah Al Imam Ahmad bin Hanbal. Dan seluruh ulama Andalusia mengatakan hal yang serupa yakni Imam Ahmad bin Hanbal. Akhirnya hal ini membuat Baqi ibnu Mukhlit tadi sangat penasaran dengan imam Ahmad dan ingin bertemu dengan beliau secara langsung dan mengambil sanad hadist ke beliau. Akhirnya ia bertanya kepada seorang ulama tentang dimanakah keberadaan Imam Ahmad, ulama tadi memberitahunya bahwa beliau imam Ahmad tinggal di ibukota khalifah Abbasiyah yakni Baghdad.
            Beliau Baqi ibnu Mukhlit akhirnya memutuskan untuk berangkat ke Baghdad. Walaupun jarak antara Andalusia dengan Bagdad sangatlah jauh, beliau tetap memutuskan untuk berangkat ke Bagdad. Bebekal seadanya beliau akhirnya berangkat menuju Baghdad dengan jalan kaki. Walhasil perjalanan beliau memakan waktu yang sangat panjang untuk mencapai Bagdad, yakni lima tahun. Beliau setiap kali menyinggahi suatu tempat selalu menyempatkan untuk bekerja agar bisa menghasilkan uang untuk beliau belikan perbekalan. Dan itu beliau lakukan terus menerus hingga mencapai bagdad demi mendapatkan ilmu dari seorang yang paling alim saat itu.
            Setelah sampai di Baghdad keadaan yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang Baqi pikirkan. Beliau berpikir pasti akan mudah menemui seorang alim besar yang masyhur seperti imam Ahmad. Kenyataannya sungguh berbalik dengan apa yang beliau pikirkan. Saat itu yang Khalifah yang berkuasa adalah Al-Makmun yang terkenal dengan syubhat Al-Qur’an adalah makhluk. Kemuadian sampailah Baqi disuatu masjid besar yang didalamnya terdapat halaqoh besar yang dipimpin oleh seorang Ulama yakni Yahya bin Ma’in.  Beliau Yahya bin Ma’in adalah seorang ulama ahli dalam bidang Jarh Wa Ta’dil. Kemudian Baqi’ menemui beliau untuk membuktikan benarkah beliau mahir dalam bidang jarh wa ta’dil. Baqi menanyakan tentang beberapa ulama perawi hadits dari Andalusia dan beliau Yahya bin Ma’in mampu menjelaskan secara detail tentang sifat-sifat dan nasab seluruh ulama-ulama di Andalusia. Setelah merasa yakin Baqi lalu bertanya kepada Beliau siapakah ulama yang paling alim di dunia ini. Beliau Yahya menjawab dengan hal serupa yang dijawab oleh para ulama Andalusia, yakni Al Imam Ahmad bin Hanbal. Dan Beliau Yahya memberi tahu bahwa imam Ahmad sedang dipenjara oleh penguasa karena menentang pemikiran ulama Al-Qur’an adalah makhluk. Pada saat itu imam Ahmad dipenjara dirumahnya, beliau dilarang mengeluarkan fatwa, dilarang memberi taklim dilarang menerima tamu yang meminta fatwa ke beliau.
            Baqi bin Mukhlit tak mau sia-sia dalam kunjungan safar ilmunya ke bagdad untuk bertemu dengan beliau imam Ahmad. Akhirnya pun Baqi’ harus rela menyamar menjadi seorang pengemis supaya bisa menjadi kamuflase untuk bertemu dan mengambil hadits ke beliau Imam Ahmad bin Hanbal.
            Nah ikhwah sekalian, kutipan cerita di atas penuh dengan pelajaran serta hikmah yang bisa kita ambil, mengingat kita saat ini adalah seorang Tholibul ilmi. Walaupun beliau fakir dalam harta beliau tetap bersikukuh dan rela berjalan beribu ribu kilometer demi mencari ilmu. Kemudian rela menjadi seorang pengemis supaya bisa mendapatkan ilmu dari imam Ahmad bin Hanbal. Maka dari itu ikhwah mari kita senantiasa perbarui semangat kita dalam mencari ilmu. Janganlah kita menyerah hanya dalam mencari ilmu hanya karena permasalahan-permasalahan kecil yang menghadangi kita. Ingat seorang ahli ilmu itu adalah pewaris para nabi dan lebih tinggi derajatnya dari pada seorang ahli ibadah. Seperti yang disabdakan Rosulullah, “Dan sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan purnama atas semua bintang-bintang. Dan sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi itu tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya maka dia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR Abu Dawud). Oleh karena itu kita tak boleh putus asa dalam mencari rahmat Allah yakni mencari ilmu walaupun harus pergi meninggalkan keluarga serta kampung halaman kita. Wallahua’lam

No comments:

Post a Comment