( Di
sadur dari materi kuliah DR Atiq Ur Rehman tentang Statistik For Muslims)
Bagian VI: Ilmu Diperoleh Dengan Perjuangan Dan Aksi
Allah Ta’ala
telah menjanjikan kepada kita akan membimbing kepada siapa saja yang berjuang di
jalan-Nya. Ini berarti bahwa ilmu itu akan didapatkan hanya dengan usaha dan
perjuangan. Tapi tidak semua bentuk perjuangan akan membawa kepada sebuah ilmu.
Perjuangan tersebut harus menjadi wasilah yang membawa kepada ma’rifatullah. Ini berarti bahwa semua niat yang kita
lakukan di dunia ini adalah penting. Nilai dari semua perbuatan itu tergantung
pada niatnya. Kita harus memiliki niat untuk menggunakan semua ilmu pengetahuan
demi kemanfaatan kehidupan manusia. Orang yang paling baik adalah orang yang
membawa manfaat kepada orang lain. dengan konsep memberi manfaat untuk manusia,
usaha dan aksi pembelajaran kita berubah menjadi ibadah. Ini adalah sebuah hal
dasar, sejak pertama kali kita diciptakan memang semata-mata hanya untuk
beribadah kepada Allah, maka semua perbuatan kita harus dijadikan sebagai
sebuah ibadah.
Bersamaan
dengan niat, harus pula ada aksi. Kita harus terus mencoba menggunakan dan
mengamalkan ilmu-ilmu kita untuk merubah dunia ini menjadi lebih baik, sesuai dengan
ajaran-ajaran islam. Dalam proses percobaan untuk merubah banyak hal inilah
kita akan diberi dan dianugerahi ilmu yang sesungguhnya yang merupakan bagian
dari Allah. Ini berarti bahwa islam mendidik kita dengan sebuah pendekatan yang
penuh usaha dan orientasi terhadap ilmu, dan ini sangatlah berbeda dengan dasar
pengajaran dan pembelajaran metode passive classroom yang telah kita lakukan dalam meniru
model-model pendidikan barat.
Bagian VII: Kesatuan Ilmu Pengetahuan
meningkatnya spesialisasi (pengkhususan)
telah membawa kepada pemecahan dan penggolongan ilmu pengetahuan di dunia
barat. Hal ini dipercayai bahwa ledakan dalam jumlah ilmu pengetahuan telah
membawa kepada penggolongan dan pemecahan bidang ilmu pengetahuan. Kenyataanya,
ilmu pengetahuan itu disatukan oleh tujuan. Memiliki rasa terhadap sebuah garis
besar usaha manusia dan bagaimana itu melayani ras manusia. sesorang dapat
memiliki sebuah pemikiran atau ide tentang bagaimana usaha seseorang layak dan
siap terhadap bingkai besar kehidupan ini.
Dua
konsekuensi pemecahan ilmu harus di hindari oleh kaum muslimin di dalam
pendekatan kita untuk menciptakan metode islami dalam pengajaran dan
pembelajaran. Yang pertama adalah bahwa kita harus merelasikan teknik-teknik
kepada penggunaannya di dunia nyata. Kita tidak bisa belajar teknik-teknik dan
metode-metode dalam sebuah isolasi dari bagaimana hal tersebut akan digunakan
di kehidupan dunia nyata. Ini adalah hal yang krusial (penting) karena ilmu itu
berguna dan bermanfaat hanya jika ilmu-ilmu tersebut dapat digunakan secara
nyata dalam beberapa tujuan praktis. Karena memang hal seperti itu tidak dibuat
di barat dan juga sebuah jumlah besar materi pengajaran sebenarnya tidak
memiliki kegunanaanya dalam dunia nyata. Lebih jauh lagi hal itu memang tidak
dipertimbangkan secara segnifikan dan relevan.
Hal kedua
yang penting dalam perbedaan pengajaran islam dan barat adalah islam menekan
kita untuk memiliki tanggung jawab terhadap semua konsekuensi perbuatan kita.
Seseorang akan menerima ganjaran baik sebagai hadiah perbuatan baiknya. Begitu
pula sebaliknya seseorang yang melakukan perbuatan buruk akan mendapat balasan.
Dengan demikian seorang ilmuwan muslim tidak boleh berkata seperti kebanyakan
ilmuwan-ilmuwan lakukan, bahwa kita hanya menciptakan bentuk fisikal bom
nuklir, tapi kita tidak ikut andil dalam meninggalnya jutaan jiwa yang tidak
bersalah. Seorang ilmuwan muslim harus mempertimbangkan tentang siapa yang akan
menggunakan ilmunya dan untuk apa tujuannya. Dia tidak bisa hanya menjadi
sebagai penasihat netral tanpa memiliki nilai yang hanya menyediakan pelayanan
memuaskan tanpa menanyakan tujuan apa yang akan dilakukan dengan karyanya.
Bagian VIII: Etika-etika Untuk Pengajar dan Para Penuntut
Ilmu
Sejak Rosululloh Muhammad Shalallahu
Alaihi Wassalam diutus sebagai seorang guru, seluruh hidupnya menyajikan
sebuah tauladan untuk para guru. Lalu para sahabat beliau juga sosok pencari
ilmu yang ideal dan menyajikan tauladan-tauladan kepada kita untuk ditiru.
Etika-etika islam dalam hal pengajaran dan pembelajaran sangatlah kompleks dan
detail dan telah dijadikan pokok dalam beberapa buku. Di artikel ini kita hanya
membahas secara singkat tentang beberapa esensi dasar. Untuk pembahasan lebih
detailnya akan dibahas pada artikel selanjutnya yang berjudul ” Prinsip-prinsip
pendidikan islam”.
Semua nilai
dari seluruh perbuatan itu tergantung pada niatannya, baik pengajar maupun yang
diajar harus memiliki niatan yang benar untuk mengajar dan belajar. Para
penuntut ilmu harus memiliki niat dalam mencari ilmu untuk melayani umat nabi
Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam. Lebih jauh lagi, mereka harus
berniat amalan mereka hanya untuk mendapat ridho Allah, bukan untuk yang lain.
Begitu juga
dengan para pengajar yang telah diberi ilmu harus memiliki tanggung jawab untuk
menyebarkan ilmu-ilmu mereka. mereka harus menjadikannya sebuah kewajiban untuk
selalu mengajarkannya. Mereka harus senantiasa menyediakan waktu bagi para
murid-muridnya, dan berusaha untuk memberi mereka ilmu yang bermanfaat. Mereka
harus menganggap setiap murid adalah harta berharga, karena setiap kehidupan
manusia adalah sangat berharga dan para pengajar memiliki potensi dalam merubah
kehidupan untuk menjadi lebih baik. (selesai) Wallahua’lam
No comments:
Post a Comment