Greet


Sunday, September 23, 2012

PENDEKATAN NILAI-NILAI ISLAM DALAM ILMU PENGETAHUAN


( Di sadur dari materi kuliah DR Atiq Ur Rehman tentang Statistik For Muslims)


Bagian VI: Ilmu Diperoleh Dengan Perjuangan Dan Aksi

            Allah Ta’ala telah menjanjikan kepada kita akan membimbing kepada siapa saja yang berjuang di jalan-Nya. Ini berarti bahwa ilmu itu akan didapatkan hanya dengan usaha dan perjuangan. Tapi tidak semua bentuk perjuangan akan membawa kepada sebuah ilmu. Perjuangan tersebut harus menjadi wasilah yang membawa kepada ma’rifatullah.  Ini berarti bahwa semua niat yang kita lakukan di dunia ini adalah penting. Nilai dari semua perbuatan itu tergantung pada niatnya. Kita harus memiliki niat untuk menggunakan semua ilmu pengetahuan demi kemanfaatan kehidupan manusia. Orang yang paling baik adalah orang yang membawa manfaat kepada orang lain. dengan konsep memberi manfaat untuk manusia, usaha dan aksi pembelajaran kita berubah menjadi ibadah. Ini adalah sebuah hal dasar, sejak pertama kali kita diciptakan memang semata-mata hanya untuk beribadah kepada Allah, maka semua perbuatan kita harus dijadikan sebagai sebuah ibadah.

            Bersamaan dengan niat, harus pula ada aksi. Kita harus terus mencoba menggunakan dan mengamalkan ilmu-ilmu kita untuk merubah dunia ini menjadi lebih baik, sesuai dengan ajaran-ajaran islam. Dalam proses percobaan untuk merubah banyak hal inilah kita akan diberi dan dianugerahi ilmu yang sesungguhnya yang merupakan bagian dari Allah. Ini berarti bahwa islam mendidik kita dengan sebuah pendekatan yang penuh usaha dan orientasi terhadap ilmu, dan ini sangatlah berbeda dengan dasar pengajaran dan pembelajaran metode passive classroom  yang telah kita lakukan dalam meniru model-model pendidikan barat.

Bagian VII: Kesatuan Ilmu Pengetahuan

         meningkatnya spesialisasi (pengkhususan) telah membawa kepada pemecahan dan penggolongan ilmu pengetahuan di dunia barat. Hal ini dipercayai bahwa ledakan dalam jumlah ilmu pengetahuan telah membawa kepada penggolongan dan pemecahan bidang ilmu pengetahuan. Kenyataanya, ilmu pengetahuan itu disatukan oleh tujuan. Memiliki rasa terhadap sebuah garis besar usaha manusia dan bagaimana itu melayani ras manusia. sesorang dapat memiliki sebuah pemikiran atau ide tentang bagaimana usaha seseorang layak dan siap terhadap bingkai besar kehidupan ini.
            Dua konsekuensi pemecahan ilmu harus di hindari oleh kaum muslimin di dalam pendekatan kita untuk menciptakan metode islami dalam pengajaran dan pembelajaran. Yang pertama adalah bahwa kita harus merelasikan teknik-teknik kepada penggunaannya di dunia nyata. Kita tidak bisa belajar teknik-teknik dan metode-metode dalam sebuah isolasi dari bagaimana hal tersebut akan digunakan di kehidupan dunia nyata. Ini adalah hal yang krusial (penting) karena ilmu itu berguna dan bermanfaat hanya jika ilmu-ilmu tersebut dapat digunakan secara nyata dalam beberapa tujuan praktis. Karena memang hal seperti itu tidak dibuat di barat dan juga sebuah jumlah besar materi pengajaran sebenarnya tidak memiliki kegunanaanya dalam dunia nyata. Lebih jauh lagi hal itu memang tidak dipertimbangkan secara segnifikan dan relevan.
            Hal kedua yang penting dalam perbedaan pengajaran islam dan barat adalah islam menekan kita untuk memiliki tanggung jawab terhadap semua konsekuensi perbuatan kita. Seseorang akan menerima ganjaran baik sebagai hadiah perbuatan baiknya. Begitu pula sebaliknya seseorang yang melakukan perbuatan buruk akan mendapat balasan. Dengan demikian seorang ilmuwan muslim tidak boleh berkata seperti kebanyakan ilmuwan-ilmuwan lakukan, bahwa kita hanya menciptakan bentuk fisikal bom nuklir, tapi kita tidak ikut andil dalam meninggalnya jutaan jiwa yang tidak bersalah. Seorang ilmuwan muslim harus mempertimbangkan tentang siapa yang akan menggunakan ilmunya dan untuk apa tujuannya. Dia tidak bisa hanya menjadi sebagai penasihat netral tanpa memiliki nilai yang hanya menyediakan pelayanan memuaskan tanpa menanyakan tujuan apa yang akan dilakukan dengan karyanya.

Bagian VIII: Etika-etika Untuk Pengajar dan Para Penuntut Ilmu

           Sejak Rosululloh Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam diutus sebagai seorang guru, seluruh hidupnya menyajikan sebuah tauladan untuk para guru. Lalu para sahabat beliau juga sosok pencari ilmu yang ideal dan menyajikan tauladan-tauladan kepada kita untuk ditiru. Etika-etika islam dalam hal pengajaran dan pembelajaran sangatlah kompleks dan detail dan telah dijadikan pokok dalam beberapa buku. Di artikel ini kita hanya membahas secara singkat tentang beberapa esensi dasar. Untuk pembahasan lebih detailnya akan dibahas pada artikel selanjutnya yang berjudul ” Prinsip-prinsip pendidikan islam”.
            Semua nilai dari seluruh perbuatan itu tergantung pada niatannya, baik pengajar maupun yang diajar harus memiliki niatan yang benar untuk mengajar dan belajar. Para penuntut ilmu harus memiliki niat dalam mencari ilmu untuk melayani umat nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam. Lebih jauh lagi, mereka harus berniat amalan mereka hanya untuk mendapat ridho Allah, bukan untuk yang lain.
            Begitu juga dengan para pengajar yang telah diberi ilmu harus memiliki tanggung jawab untuk menyebarkan ilmu-ilmu mereka. mereka harus menjadikannya sebuah kewajiban untuk selalu mengajarkannya. Mereka harus senantiasa menyediakan waktu bagi para murid-muridnya, dan berusaha untuk memberi mereka ilmu yang bermanfaat. Mereka harus menganggap setiap murid adalah harta berharga, karena setiap kehidupan manusia adalah sangat berharga dan para pengajar memiliki potensi dalam merubah kehidupan untuk menjadi lebih baik. (selesai) Wallahua’lam

No comments:

Post a Comment