Upin: “Bro pekan depan
kita dapet undangan dari ikhwah thailand ada turnamen bola antar Negara di stadion
utama Timnas dan pemenangnya dapet hadiah keren pokoknya”
Ipin: “wah brarti kita
harus persiapan bener-bener nih cuy, supaya kita dapet juara satu meen, hehe”
Upin: ”btul…btul…btul.
Kalo perlu kita ngadain TC ditmpat yg keren buat timnas mahasiswa kita, trus
training-training yang lain. biar persiapan kita maksimal. Soale waktu da mepet
nih bro.”
Ipin: “seph, pkoke ane setuju lah, persiapan
matang dan hasil akhire juara umum, theek hai jana??”
Upin: “acha Tikhe broo”
Sedikit
cuplikan dialog di atas di sadur dari kisah nyata lho, cuman ane permak biar
lebih kliatan keren bin lebay cuplikan dialognya. Yang jelas itu pkoke kisah nyata
kita temen-temen mahasiswa indo dapet undangan maen bola dari penyelenggara
turnamen mahasiswa Thailand.
Nah kawan-kawan,
sebenare yang mau ane sorotin sih bukan maen bolanya, tapi satu yaitu
tujuannya, kemenangan. Yah sudah jadi sunnatullah kalo ingin mendapat
keberhasilan ato kemenangan pasti memerlukan persiapan dan proses. Sudah pasti
rasa ingin jadi pemenang ada di dalam diri manusia dan emang itu adalah sifat
ashli tabiat manusia. Dari cuplikan dialog di atas yang mengisahkan tentang
maen bola, itu aja mereka sesumbar pokoke harus menang sampe-sampe mau ngadai
TC segala dan training-training yang lain, biar persiapan matang dan
mendapatkan predikat pemenang turnamen. Itu hanya secuil contoh di kehidupan
nyata manusia yang ingin dapat predikat pemenang padahal masih banyak contoh
yang lainnya.
Menungso kie
emang lucu tenan kalo mau dipikir-pikir. Koq bisa? Coba pikirkan, manusia
itu kadang eh sering malahan, mereka sesumbar untuk dapet predikat pemenang di
depan manusia. Seakan-akan predikat pemenang di hadapan manusia tu sangat
prestisius dan wuuaah elegan. Wes pokoknya apapun rela di kerjakan demi
mengejar predikat kemenangan itu. Tapi di sisi lain manusia sering lalai akan
predikat kemenangan yang telah disiapkan oleh sang Penguasa alam semesta. Kalo
pinter tuh manusia, secara matematis and logis haruse manusia itu milih
mengejar predikat dari sang Penguasa manusia bukan mlah dari manusia. Bukankan
lebih prestisius dan wuuah?? Bayangkan yang ngasih predikat tuh yang nyiptain
manusia harusnya lebih bangga dan lebih rela nglakuin apa aja tuk ngejar nih
predikat. Tapi emang dasar kebanyakan manusia itu bodoh, mereka akhire lebih
senang dapet predikat kemenangan dari manusia juga yang sama-sama bodhone.
Nah ikhwah
fillah, kita sebagai seorang mukmin harusnya lebih bangga dengan predikat yang
telah Allah siapkan buat hamba-hambanya. Predikat dari sang Pencipta alam
semesta dan isi-isinya. Tapi jelas ada konsekuensinya dan tahapnya tuk dapet
predikat kemenangan dari Allah, lha wong tuk dapetkan predikat pemenang
turnamen bola aja harus ada persiapan dan latihan sebagai syarat dan konsekuensi
predikat menang. Begitu pula Allah juga memberikan syarat pada hambanya bagi
siapa-siapa yang ingin jadi pemenang di hadapan Allah. Allah Berfirman dalam
surat Ali Imron 104:
“ Dan jadilah dari kalian umat
yang senantiasa menyeru kepada kebajikan dan mengajak kepada kebaikan serta
melarang kepada kemungkaran. Dan mereka itulah orang-orang yang menang”.
Ada tiga syarat tuk jadi pemenang
di hadapan Allah, yaitu Menyeru kepada kebajikan, menagajak kepada hal-hal yang
mendekatkan diri kepada Allah (ma’ruf) dan melarang kepada hal-hal yang
menjauhkan diri dari Allah (mungkar). Syarat yang sebenarnya mudah dilakukan
bagi manusia asalkan manusia tersebut ikhlas sebagai mana mereka ikhlas
bercapek-capek ria dalam latihan sepak bola biar timnya bisa menang dan juara.
Dan
emang dasar manusia pasti mudah capek dan putus asa dalam mengejar predikat
Allah. Benar memang predikat dari Allah itu kasat mata, berbeda dengan predikat
dari manusia yang tampak jelas. Berubung predikat Allah itu ghoib, akhirnya
dipilh deh predikat yang Dzohir dari manusia. Padahal jelas nilai predikat
kemenangan dari Allah sangat jauuuuh berbeda dari predikat manusia. Dan
ujung-ujungnya jadi males dan putus asa dalam menjalankan syarat yang Allah
berikan supaya jadi pemenang. Tapi seharusnya kita tidak boleh putus asa dalam
mengejar janji Allah jadi pemenang ini, karena sifat putus asa itu hanya milik
orang-orang kafir “Innahu layaiasu illal qaumul kafiruun”. Orang
islam apa lagi orang mukmin tidak ada istilah putus asa dalam kamus
kehidupannya apalagi demi mengejar janji dari Allah. So, mari kita senantiasa
semangat dalam menjalankan syarat-syarat Allah yakni Menyeru kepada kebajikan,
Amar Makruf dan Nahi mungkar, supaya kita semua jadi pemenang di hadapan Allah Subhanahu
Wa Ta’ala. Wallahu a’lam
No comments:
Post a Comment