Greet


Wednesday, September 12, 2012

INGIN JADI PEMENANG???


Upin: “Bro pekan depan kita dapet undangan dari ikhwah thailand ada turnamen bola antar Negara di stadion utama Timnas dan pemenangnya dapet hadiah keren pokoknya”
Ipin: “wah brarti kita harus persiapan bener-bener nih cuy, supaya kita dapet juara satu meen, hehe”
Upin: ”btul…btul…btul. Kalo perlu kita ngadain TC ditmpat yg keren buat timnas mahasiswa kita, trus training-training yang lain. biar persiapan kita maksimal. Soale waktu da mepet nih bro.”
Ipin:  “seph, pkoke ane setuju lah, persiapan matang dan hasil akhire juara umum, theek hai jana??”
Upin: “acha Tikhe broo”
           Sedikit cuplikan dialog di atas di sadur dari kisah nyata lho, cuman ane permak biar lebih kliatan keren bin lebay cuplikan dialognya. Yang jelas itu pkoke kisah nyata kita temen-temen mahasiswa indo dapet undangan maen bola dari penyelenggara turnamen mahasiswa Thailand. 

Nah kawan-kawan, sebenare yang mau ane sorotin sih bukan maen bolanya, tapi satu yaitu tujuannya, kemenangan. Yah sudah jadi sunnatullah kalo ingin mendapat keberhasilan ato kemenangan pasti memerlukan persiapan dan proses. Sudah pasti rasa ingin jadi pemenang ada di dalam diri manusia dan emang itu adalah sifat ashli tabiat manusia. Dari cuplikan dialog di atas yang mengisahkan tentang maen bola, itu aja mereka sesumbar pokoke harus menang sampe-sampe mau ngadai TC segala dan training-training yang lain, biar persiapan matang dan mendapatkan predikat pemenang turnamen. Itu hanya secuil contoh di kehidupan nyata manusia yang ingin dapat predikat pemenang padahal masih banyak contoh yang lainnya.
Menungso kie emang lucu tenan kalo mau dipikir-pikir. Koq bisa? Coba pikirkan, manusia itu kadang eh sering malahan, mereka sesumbar untuk dapet predikat pemenang di depan manusia. Seakan-akan predikat pemenang di hadapan manusia tu sangat prestisius dan wuuaah elegan. Wes pokoknya apapun rela di kerjakan demi mengejar predikat kemenangan itu. Tapi di sisi lain manusia sering lalai akan predikat kemenangan yang telah disiapkan oleh sang Penguasa alam semesta. Kalo pinter tuh manusia, secara matematis and logis haruse manusia itu milih mengejar predikat dari sang Penguasa manusia bukan mlah dari manusia. Bukankan lebih prestisius dan wuuah?? Bayangkan yang ngasih predikat tuh yang nyiptain manusia harusnya lebih bangga dan lebih rela nglakuin apa aja tuk ngejar nih predikat. Tapi emang dasar kebanyakan manusia itu bodoh, mereka akhire lebih senang dapet predikat kemenangan dari manusia juga yang sama-sama bodhone.
Nah ikhwah fillah, kita sebagai seorang mukmin harusnya lebih bangga dengan predikat yang telah Allah siapkan buat hamba-hambanya. Predikat dari sang Pencipta alam semesta dan isi-isinya. Tapi jelas ada konsekuensinya dan tahapnya tuk dapet predikat kemenangan dari Allah, lha wong tuk dapetkan predikat pemenang turnamen bola aja harus ada persiapan dan latihan sebagai syarat dan konsekuensi predikat menang. Begitu pula Allah juga memberikan syarat pada hambanya bagi siapa-siapa yang ingin jadi pemenang di hadapan Allah. Allah Berfirman dalam surat Ali Imron 104:
“ Dan jadilah dari kalian umat yang senantiasa menyeru kepada kebajikan dan mengajak kepada kebaikan serta melarang kepada kemungkaran. Dan mereka itulah orang-orang yang menang”.
Ada tiga syarat tuk jadi pemenang di hadapan Allah, yaitu Menyeru kepada kebajikan, menagajak kepada hal-hal yang mendekatkan diri kepada Allah (ma’ruf) dan melarang kepada hal-hal yang menjauhkan diri dari Allah (mungkar). Syarat yang sebenarnya mudah dilakukan bagi manusia asalkan manusia tersebut ikhlas sebagai mana mereka ikhlas bercapek-capek ria dalam latihan sepak bola biar timnya bisa menang dan juara.
                Dan emang dasar manusia pasti mudah capek dan putus asa dalam mengejar predikat Allah. Benar memang predikat dari Allah itu kasat mata, berbeda dengan predikat dari manusia yang tampak jelas. Berubung predikat Allah itu ghoib, akhirnya dipilh deh predikat yang Dzohir dari manusia. Padahal jelas nilai predikat kemenangan dari Allah sangat jauuuuh berbeda dari predikat manusia. Dan ujung-ujungnya jadi males dan putus asa dalam menjalankan syarat yang Allah berikan supaya jadi pemenang. Tapi seharusnya kita tidak boleh putus asa dalam mengejar janji Allah jadi pemenang ini, karena sifat putus asa itu hanya milik orang-orang kafir Innahu layaiasu illal qaumul kafiruun”. Orang islam apa lagi orang mukmin tidak ada istilah putus asa dalam kamus kehidupannya apalagi demi mengejar janji dari Allah. So, mari kita senantiasa semangat dalam menjalankan syarat-syarat Allah yakni Menyeru kepada kebajikan, Amar Makruf dan Nahi mungkar, supaya kita semua jadi pemenang di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Wallahu a’lam

No comments:

Post a Comment