( Di
sadur dari materi kuliah DR Atiq Ur Rehman tentang Statistik For Muslims)
Bagian V: Manfaat Dan Kerugian Ilmu Pengetahuan
Rasululloh Muhammad Shalallahu
Alaihi Wassalam Meminta keberkahan ilmu kepada Allah serta meminta
perlindungan pula dari kerugian ilmu.
“Diriwayatkan oleh Jabir Radhiyalalluh Anhu bahwa
Rasululloh Shalallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda, “ada dua macam ilmu.
Yang pertama adalah yang masuk kedalam hati, dan ini adalah ilmu yang
bermanfaat. Dan yang lainnya adalah ilmu yang hanya di lidah tanpa amal atau
keikhlasan (kerugian ilmu). Dan itu adalah argument Allah kepada putra nabi
Adam Alaihissalam. (Hadeeth 6 dalam kitab Muntakhib Ahadeeth Ilmo-Zikr)
Hal ini sangatlah penting untuk kita
garis bawahi bahwa ini adalah sebuah isu mengenai perbedaan konsep-konsep barat
dan konsep-konsep islam.
Sejak perbedaan antara manfaat dan kerugian ilmu
pengetahuan di hilangkan secara eksplisit oleh teori-teori pemikiran barat,
Mereka menyatakan dan mempertimbangkan bahwa semua ilmu pengetahuan secara
potensial adalah bermanfaat. Padahal ilmu yang mengalihkan serta menjauhkan
kita dari mengingat Allah adalah sebuah kerugian dan kemadharatan. Berbeda
ketika ilmu itu membawa manusia untuk lebih mengenal Allah, maka ilmu itulah
yang bermanfaat serta bernilai barokah.
Teori-teori barat menghilangkan serta
tidak mempertimbangkan dua perbedaan tersebut. Mereka berargumen bahwa dalam
banyak kejadian penelitian-penelitian ilmu yang membawa kepada madhorot dan
kerugian malah telah membawa mereka kepada penemuan-penemuan yang tak terduga.
Sebagai contoh, sonar ditemukan dengan melakukan penelitian terhadap kelelawar,
dan kecelakaan laboratorium membawa terhadap sebuah penemuan penisilin.
Bagaimanapun juga ini adalah argument yang sejalan membawa kepada argument yang
salah. Misalkan kita menemukan sebuah barang yang sudah lama hilang di dalam
rumah. Seseorang mengatakan bahwa itu seringkali terjadi, ketika kita secara
tidak sengaja malah menemukan barang-barang yang memang sedang tidak kita cari.
Oleh karena itu kita tidak diharuskan mencari dengan sengaja. Sebagaimana kita
tadi yang hanya mengandalkan kesempatan dan keberuntungan terhadap sesuatu yang
sedang kita cari. Ini juga benar bahwa contoh-contoh dapat diberikan dimana
pencarian-pencarian secara sistematis dan penuh kehati-hatian gagal mengarah ke
suatu yang dicari setelah melakukan penemuan. Semua contoh tadi tidak
membuktikan bahwa kita tidak harus melakukan pencarian dan penelitian yang
sistematis dan dengan maksud tertentu dan juga ini adalah cara yang paling
efisien dalam percobaan pencarian suatu barang. Selain itu, islam mengajari
kita bahwa nilai suatu perbuatan tergantung pada maksud dan tujuannya. Tidak
seperti halnya tadi yang menggantungkan pada keberuntungan dan
ketidaksengajaan. Maka dari itu jika kita membuat sebuah penelitian yang
memiliki maksud dan tujuan untuk memberi keuntungan serta kemakmuran kehidupan
manusia, maka kita akan dibatasi untuk melakukannya dalam sebuah cara yang sistematis
dan berarah tujuan tidak seperti barat yang bebas tanpa arah tujuan.
No comments:
Post a Comment