Greet


Saturday, September 22, 2012

PENDEKATAN NILAI-NILAI ISLAM DALAM ILMU PENGETAHUAN

( Di sadur dari materi kuliah DR Atiq Ur Rehman tentang Statistik For Muslims)

Bagian V: Manfaat Dan Kerugian Ilmu Pengetahuan

Rasululloh Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam Meminta keberkahan ilmu kepada Allah serta meminta perlindungan pula dari kerugian ilmu.
Diriwayatkan oleh Jabir Radhiyalalluh Anhu bahwa Rasululloh Shalallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda, “ada dua macam ilmu. Yang pertama adalah yang masuk kedalam hati, dan ini adalah ilmu yang bermanfaat. Dan yang lainnya adalah ilmu yang hanya di lidah tanpa amal atau keikhlasan (kerugian ilmu). Dan itu adalah argument Allah kepada putra nabi Adam Alaihissalam. (Hadeeth 6 dalam kitab Muntakhib Ahadeeth Ilmo-Zikr)
Hal ini sangatlah penting untuk kita garis bawahi bahwa ini adalah sebuah isu mengenai perbedaan konsep-konsep barat dan konsep-konsep islam.
Sejak perbedaan antara manfaat dan kerugian ilmu pengetahuan di hilangkan secara eksplisit oleh teori-teori pemikiran barat, Mereka menyatakan dan mempertimbangkan bahwa semua ilmu pengetahuan secara potensial adalah bermanfaat. Padahal ilmu yang mengalihkan serta menjauhkan kita dari mengingat Allah adalah sebuah kerugian dan kemadharatan. Berbeda ketika ilmu itu membawa manusia untuk lebih mengenal Allah, maka ilmu itulah yang bermanfaat serta bernilai barokah.
Teori-teori barat menghilangkan serta tidak mempertimbangkan dua perbedaan tersebut. Mereka berargumen bahwa dalam banyak kejadian penelitian-penelitian ilmu yang membawa kepada madhorot dan kerugian malah telah membawa mereka kepada penemuan-penemuan yang tak terduga. Sebagai contoh, sonar ditemukan dengan melakukan penelitian terhadap kelelawar, dan kecelakaan laboratorium membawa terhadap sebuah penemuan penisilin. Bagaimanapun juga ini adalah argument yang sejalan membawa kepada argument yang salah. Misalkan kita menemukan sebuah barang yang sudah lama hilang di dalam rumah. Seseorang mengatakan bahwa itu seringkali terjadi, ketika kita secara tidak sengaja malah menemukan barang-barang yang memang sedang tidak kita cari. Oleh karena itu kita tidak diharuskan mencari dengan sengaja. Sebagaimana kita tadi yang hanya mengandalkan kesempatan dan keberuntungan terhadap sesuatu yang sedang kita cari. Ini juga benar bahwa contoh-contoh dapat diberikan dimana pencarian-pencarian secara sistematis dan penuh kehati-hatian gagal mengarah ke suatu yang dicari setelah melakukan penemuan. Semua contoh tadi tidak membuktikan bahwa kita tidak harus melakukan pencarian dan penelitian yang sistematis dan dengan maksud tertentu dan juga ini adalah cara yang paling efisien dalam percobaan pencarian suatu barang. Selain itu, islam mengajari kita bahwa nilai suatu perbuatan tergantung pada maksud dan tujuannya. Tidak seperti halnya tadi yang menggantungkan pada keberuntungan dan ketidaksengajaan. Maka dari itu jika kita membuat sebuah penelitian yang memiliki maksud dan tujuan untuk memberi keuntungan serta kemakmuran kehidupan manusia, maka kita akan dibatasi untuk melakukannya dalam sebuah cara yang sistematis dan berarah tujuan tidak seperti barat yang bebas tanpa arah tujuan.
 

No comments:

Post a Comment