( Di
sadur dari materi kuliah DR Atiq Ur Rehman tentang Statistik For Muslims)
Bagian
IV: Haus Akan Ilmu Adalah Bagian Dari Islam
Pada zaman keemasan islam, sebuah
elemen penting dalam percepatan pertumbuhan kekuatan islam adalah dahaga
seorang muslim terhadap ilmu pengetahuan, yang terinspirasi oleh risalah suci.
Kaum muslimin saat itu sangat berhasrat sekali dalam mencari ilmu pengetahuan
dari berbagai sumber yang ada. Mereka mengadopsi elemen-elemen ilmu pengetahuan
yang bermanfaat dari peradaban Yunani, India, China, Persia dan
peradaban-beradaban yang lain. Jadi proses islamisasi ilmu pengetahuan ini
telah sukses di terapkan oleh kaum muslimin bertahun-tahun yang lalu. Perlu
diketahui salah satu aspek penting penyebab kemunduran Kaum muslimin adalah
mereka telah kehilangan rasa dahaga akan ilmu pengetahuan. Kebodohan dan buta huruf telah menyebar luas
ditengah kaum muslimin. Maka dari itu para pengajar harus memiliki rasa
tanggung jawab untuk menginspirasi murid-muridnya dalam mencari ilmu, begitu
juga para murid harus memiliki rasa
tanggung jawa untuk meletakkan semua usaha-usaha mereka dan pengorbanan mereka
menjadi sebuah tambahan ilmu pengetahuan.
Ada banyak
hal yang dahsyat dalam kandungan ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits-Hadits yang
berkenaan dengan ilmu. Beberapa ayat pertama yang diwahyukan berisi tentang
perintah untuk membaca, dan keagungan rahmat Allah yang mengajari manusia
dengan ilmunya yang mereka tidak ketahui. Maka dari itu, peranan Allah sebagai
seorang pengajar adalah salah satu rahmat Allah yang paling agung. Semua
makna-makna dari ayat-ayat ini adalah untuk memotivasi kita menjadi antusias
dalam Tholabul ilmi.
“Dan Dia
mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian
mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah
kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang
benar!" (Al-Baqarah:31)
“Dan
(ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah[36]
kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan
takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir”.(Al-Baqarah:34)
Allah Ta’ala
menciptakan Adam Alaihissalam dan menganugerahinya ilmu pengetahuan yang
menjadi salah satu alasan beliau lebih mulia dari pada para Malaikat. Alasan
inilah yang menyatakan superioritas beliau nabi Adam bahwa malaikat telah
diperintah Allah untuk tunduk kepadanya. Dan alasan inilah juga yang menyatakan
penolakan dan pembangkangan superioritas nabi Adam Alaihissalam oleh Iblis
La’natulloh. Jadi ilmu pengetahuan inilah yang menjadi salah satu alasan
mengapa manusia lebih agung daripada para malaikat.
Serupa dengannya, Nabi Muhammad Shalallahu
Alaihi Wassalam perah bersabda bahwa
manusia karena ilmu itu lebih tinggi derajatnya dari pada para ahlul
ibadah, ini sama halnya dengan kemuliaan
Rasulullah di atas para sahabatnya. (Hadeeth 30, Muntakhib Ahadeeth Ilmo Zikr).
Di hadits yang lain beliau juga menyatakan bahwa Allah Ta’ala memudahkan
jalan menuju Surganya untuk para pencari ilmu, dan sesungguhnya para
malaikat akan membentangkan sayap-sayap mereka kepada pencari ilmu sebagai
keridhaan atas apa yang ia perbuat. Dan sesungguhnya penghuni langit dan di
bumi, sampai ikan-ikan di laut pun memohonkan ampun untuk orang-orang yang
berilmu. Dan sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu atas ahli ibadah seperti
keutamaan bulan purnama atas semua bintang-bintang. Dan sesungguhnya para ulama
adalah pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi itu tidak mewariskan dinar
dan dirham, tetapi mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya maka dia
telah mengambil bagian yang banyak.” (HR Abu Dawud).
Dikarenakan
firman Allah tentang perintah menuntut ilmu, kaum muslimin zaman dahulu telah menciptakan
sebuah peradaban yang penuh dengan nilai ilmu pengatahuan di segala bidang.
Perpustakaan Baghdad memiliki koleksi lebih dari 800 juta jilid buku. Terdapat
peranan yang sangat besar secara nyata kaum muslimin saat itu untuk semua
bidang ilmu pengetahuan. Sayangnya hari ini, para pelajar muslim banyak yang
tidak sadar akan pentingnya peranan kaum muslimin dalam pengembangan sains
modern. Seperti yang di jelaskan dalam buku “The Theft Of Story” oleh Jack
Goody (2012), Orang-orang eropa telah membuat prioritas terhadap penemuan-penemuan
Scientific peradaban-peradaban lain seperti teori al jabar,
teori bedah, optical, teori heliosentris dan banyak lagi, dan mereka
orang-orang eropa mengeklain penemuan-penemuan tersebut sebagai penemuan
mereka. lebih jauh lagi, mereka telah menyatakan bahwa orang-orang eropa
dilengkapi dengan kemampuan unik untuk berpikir rasional dan Sainstifikal.
Blaut (2000) telah mendokumentasikan pemikir-pemikir dan sejarawan-sejarawan
berpengaruh dan popular seperti Webber, White, Mann, Hall, dan Landees yang setuju
dengan statemen bahwa orang-orang eropa memiliki sentuhan kreativitas dan
saintifik yang unik. Statemen tersebut yang menyatakan peradaban eropa adalah
unik dan luar biasa sering disebut dengan “Eurosentrisme”. Statement ini
dibangun dalam model-model pengajaran eropa dan ini diserap oleh para pelajar
muslim tanpa melihat referensi terhadap prosedur-prosedur muslim di dalam Study mereka. Tapi ini adalah
sebuah rintangan untuk mengembangkan kepercayaan diri dan keahlian yang
digunakan untuk pembuatan inovasi-inovasi dan peningkatan-peningkatan dalam
area-area ilmu pengetahuan.
Baru-baru
ini terdapat sebuah karya yang mendokumentasikan tentang asal-usul Sains dalam
peradaban islam beserta fakta-faktanya baik berupa sikap teoris ataupun empiris
dalam Al-Qur’an. El-Masrafy telah menuliskan pula pengaruh besar Al-Qur’an
terhadap para intelektual eropa dalam bukunya “The Enlightenment Qur’an”. (bersambung)
No comments:
Post a Comment