( Di
sadur dari materi kuliah DR Atiq Ur Rehman tentang Statistik For Muslims)
Bagian II: Ilmu Pengetahuan Adalah Termasuk Pemberian
Terbesar Dari Allah
“Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al
Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang
dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan
hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman
Allah)” (al-Baqarah:269)
Firman Allah di atas ditanamkan
secara kuat dengan surat tentang pentingnya ilmu pengetahuan, yakni Surat al-Alaq 1-5:
“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan.
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal daging. Bacalah dan Tuhanmulah yang
maha Pemurah.Yang mengajar manusia dengan perantara kalam (tulis dan baca). Dia
mengajar manusia sesuatu yang tidak diketahuinya”.
Rahmat dari Allah telah di sampaikan sebagai sebuah
pengajaran untuk membaca dan menulis serta memberikan pehaman bagi manusia
tentang apa yang tidak mereka ketahui. Wahyu surat pertama ini dikuatkan juga
dengan banyak ayat lain di Al-Qur’an serta hadits-hadits yang memberikan
penjelasan tentang keutamaan ilmu.
Abu Darda pernah berkata:” Barangsiapa meniti satu jalan untuk mencari ilmu, niscaya –dengan
hal itu- Allah mudahkan baginya jalan menuju Surga. Dan sesungguhnya para
malaikat akan membentangkan sayap-sayap mereka kepada pencari ilmu sebagai
keridhaan atas apa yang ia perbuat. Dan sesungguhnya penghuni langit dan di
bumi, sampai ikan-ikan di laut pun memohonkan ampun untuk orang-orang yang
berilmu. Dan sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu atas ahli ibadah seperti
keutamaan bulan purnama atas semua bintang-bintang. Dan sesungguhnya para ulama
adalah pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi itu tidak mewariskan dinar
dan dirham, tetapi mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya maka dia
telah mengambil bagian yang banyak.” (HR Abu Dawud).
Oleh Karena itu secara khusus, kita harus melakukan
pendekatan terhadap ilmu pengetahuan sebagai sebuah makna peningkatan
spiritual, perubahan kepribadian dan berniat untuk melakukan perubahan di
kehidupan sekitar kita. Ini adalah bukan sebuah jalan atau cara untuk mencari
kesenangan kehidupan, tapi sebuah cara untuk meningkatkan nilai pribadi kita
yang bertujuan untuk menciptakan hal-hal yang positif.
Bagian III: Allah Ta’ala Memberikan Ilmu Kepada Siapa Saja
Yang Allah Pilih
“Allah
mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka
tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya.
Kursi Allah meliputi langit dan bumi” (Al-Baqarah:255)
“Allah Pelindung orang-orang yang
beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya
(iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang
mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu
adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah:257)
Allah
memberikan cahaya ilmu kepada siapa saja yang memiliki iman. Mereka yang
mengingkari Allah akan terbawa menuju kegelapan. Ini bermakna bahwa banyak
sekali dari apa yang muncul menjadi ilmu pengetahuan dari orang-orang
non-muslim tidak di ketahui secara nyata. Oleh karena itu salah satu dari tujuan
kita di tulisan ini adalah untuk menungkap fakta-fakta dan kenyataan-kenyataan
tersebut.
Konsekuensi
penting yang lain dari hal ini adalah kita harus mencari ilmu pengetahuan dari
Allah, dengan do’a dan dengan istighfar. Hal ini memiliki esensi untuk membersihkan
hati kita dari dosa-dosa, karena cahaya Allah tidak akan menyinari hati yang
gelap oleh dosa. Mencari ilmu adalah ibadah, dan tinta dari pena para pencari
ilmu tersebut dinilai seperti darah para syuhada. (bersambung)
No comments:
Post a Comment